Linda Christanty dan Jangan Tulis Kami Teroris

Teroris

DALAM perjalanan belasan jam dari Yogyakarta menuju Jakarta, saya membuang kebosanan dengan membaca Jangan Tulis Kami Teroris, sebuah kumpulan tulisan Linda Christanty yang sejumlah tulisan di dalamnya pernah muncul di medium jejaring sosial Facebook dan blog pribadinya. Dalam bentuk buku, membaca tulisan-tulisan itu jauh lebih menyenangkan.

Malam sebelumnya, 9 Juli 2011, saya menyaksikan penulis buku ini berbicara penuh semangat di hadapan para mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta yang hadir dalam acara peluncuran bukunya. Caranya berbicara dan memaparkan pendapat—sekaligus  meyakinkan pendengarnya—mengingatkan saya pada dua dekade silam ketika  kami masih sama-sama mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang Fakultas Ilmu Budaya). Malam itu saya tetap merasakan getar semangat aktivisme  Linda yang membalut nada elegiac karyanya seperti dua dekade silam. Ringkasnya,  pertemuan di Yogyakarta seperti membuka terowongan waktu ke masa itu.

Jangan Tulis Kami Teroris bagaimanapun jadi catatan yang mengingatkan bahwa ada sejumlah waktu yang telah dilalui Linda, dengan cakrawala intelektualnya yang terus berkembang melesat jauh meninggalkan masa dua dekade silam. Begitu kesan yang muncul. Ia  ibarat penggalan catatan harian berisi tumpahan pikiran segala panca indera yang merekam segala pengalaman dalam masa-masa akhir di dua dekade tersebut, khususnya sejak memimpin kantor berita Aceh Feature, lalu sedikit ‘tenggelam’ dalam hiruk-pikuk kehidupan masyarakat sekitarnya. Linda  sekarang ini bukan lagi sekedar mahasiswa sastra dekade akhir 1990an dengan hasrat mengubah dunia melalui bakat kepenulisan yang piawai. Ia bergerak dan terus berkembang.

Buku ini pun mengajak kita membuka lapisan-lapisan nebula yang membuat pikiran seringkali temaram saat kita bersinggungan dengan persoalan dalam kehidupan sehari-hari seperti agama (‘Saya dan Islam’, tulisan pertama di buku ini dan menjadi tulisan favorit dari keseluruhan tulisan), yang jarang mempersoalkan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang muncul di dalamnya. Hal serupa juga terjadi ketika Linda membahas ideologi seperti komunisme dan nasionalisme,  bangsa dan juga asal-usul kesukuan seseorang atau satu kelompok yang membentuk ragam cerita 14  tulisan di dalam buku ini. Semuanya adalah tema-tema besar abad ke-19 dan menemui puncaknya di panggung sejarah abad ke-20 dalam catatan sejarah dunia.  Menyadari ini saya merasakan kesenangan yang mengalir seperti ketika kita mendapat hadiah menyenangkan yang begitu saja datang tanpa pernah diduga sebelumnya. Cakrawala intelektualitas Linda berkembang tanpa henti. Ia juga menulis tanpa henti.

***

Kalaupun saya ingin memberi apresiasi paling awal terhadap Jangan Tulis Kami Teroris, sudah tentu fokusnya pada kesadaran sejarah yang membentuk banyak tulisan dalam buku ini.  Memang ini jenis apresiasi subjektif yang berlaku bagi orang yang bergelut dengan persoalan sejarah. Saya selalu terkesan bahwa dalam setiap bagian tulisannya, Linda tidak pernah lupa menampilkan peristiwa-peristiwa masa lalu yang memiliki relevansi dan sekaligus  menjadi latar setiap tema pembahasannya. Sejarah itu bergerak mundur  dan tampil sampai periode abad ke-17 ketika Islam berkembang menjadi kekuatan politik di wilayah pesisir Nusantara. Bukan cuma kerangka waktu dan peristiwa itu saja. Linda juga membuat penilaian tentang bagaimana penerimaan penguasa lokal terhadap keyakinan agama baru tersebut (dalam “Jilbab Dek Tata”). Penafsiran sejarah yang menarik. Sejarah ini juga menyinggung periode lebih kontemporer yang menjadi alasan pembentukan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM (dalam “Semua Untuk Aceh Merdeka”). Tidak ketinggalan disinggungnya juga sejarah bangsa lain.  Linda mengangkat periode Third Reich di Jerman ketika orang-orang Yahudi menjadi sasaran pembunuhan Nazi dan peristiwa itu merupakan perjalanan sejarah bangsa Jerman sebagai ‘penyimpangan tak terampunkan’ dalam sejarah peradaban Barat sejak periode Renaissance di Eropa.

Sampai sekarang rasa malu bangsa itu tidak pernah pudar terhadap apa yang pernah terjadi dalam periode tersebut. Sebagian sejarawan memberi ciri terhadap kekejaman Nazi ini dengan istilah industrial killings; sebuah pembunuhan yang menyerupai produksi sebuah komoditi dengan sistem manajemen modern, tungku pembakaran, kamar gas, dan tak terlupakan adalah orang-orang Yahudi yang menjadi bahan mentah roda industri pembunuhan menyerupai proses produksi ala Fordisme Amerika. Tetapi yang bergerak dalam roda berjalan itu tentu bukan logam mati, melainkan sejumlah manusia yang tidak punya agenda apapun tentang masa depan. Masa depan mereka adalah masa depan yang berarti besok atau beberapa jam lagi akan pasti menjadi: sebuah kematian massal yang terprediksi!

Kekejaman seperti ini juga kita dapatkan dalam tulisan Linda tentang Tahun Nol di Kamboja, meski terdapat gambaran berbeda. Masyarakat Kamboja bukan masyarakat industri layaknya Jerman. Lanskap sosial dan geografis mereka lebih rimbun dengan pepohonan, sawah dan irigasi. Tentang irigasi dan bagaimana pengelolaannya berkait dengan sistem sosial mereka, Karl Witfogel menjuluki bangsa itu sebagai hydraulic society—mirip sistem subak di Bali. Julukan itu mungkin memberikan catatan tentang ‘keunikan’ sejarah yang dilalui bangsa tersebut, sekaligus ‘kelambanan’ evolusi sejarah dalam sudut pandang Eropa tentunya.

Meskipun status masyarakat pengairan ini memberi kesan kedamaian dan kedekatan manusia dengan alam, tetapi di Tahun Nol jutaan orang mati di Kamboja. Di bawah rezim Pol Pot, para petani desa—umumnya anak-anak muda—melampiaskan kekesalan dan dendam mereka terhadap orang-orang kota dan para intelektual yang dianggapnya telah hidup nyaman atas penderitaan para petani desa. Dalam beberapa hal kebenciaan itu memiliki landasan empirisnya. Tetapi bukan berarti ia memberi keabsahan atas amarah lama yang menyebabkan pemusnahan terhadap orang-orang yang mereka benci. Para pemimpin yang kemudian berurusan terhadap amarah itu dan merencanakan atraksinya. Kelak mereka juga yang paling bertanggungjawab terhadap kekerasan mengerikan dalam sejarah kontemporer Kamboja.

Kita pun memiliki catatan kelam seperti itu.

Pada 1965, orang Indonesia membunuh orang Indonesia lainnya. Itu adalah “kematian tanpa tangisan”,  kata James T. Siegel,  seorang antropolog, dalam catatannya. Sayangnya, sampai sekarang kita di Indonesia tidak pernah menyinggung secara serius apa yang terjadi di tahun 1965.  Peristiwa kekejaman itu lambat-laun akan lenyap dari ingatan. Beberapa metafora populer yang terkait dengan peristiwa 1965 memberikan gambaran tentang peristiwa mengerikan itu. “Seperti ledakan gunung berapi”,  atau “sebuah upaya kosmos mencapai titik keseimbangan kembali”, demikian catatan Henk Schulte Nordholdt dalam ulasannya tentang 1965. Lebih sederhana lagi, masyarakat yang tinggal di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, mengungkapkannya dengan metafora yang cukup mencekam. “Ayam jago pun tak lagi berkokok.”  Sepertinya ini menyatakan tentang gelap berkepanjangan yang membentuk jiwa kolektif mereka ketika peristiwa itu terjadi. Bagaimana mungkin akan muncul terang bila sang jago tidak lagi berkokok di pulau itu? Tetapi hal ini bukan perhatian penulis dalam bukunya. Dari Aceh ia bergerak terus ke utara bertemu bangsa-bangsa lain yang di abad-abad sebelum kedatangan bangsa Eropa telah berjumpa dalam hubungan perkawinan demi sebuah taktik geopolitik menghadapi ancaman militer pasukan Mongol yang begitu perkasa saat itu. Seorang raja Jawa bernama Sri Kartanegara di abad ke-12 telah memotong telinga utusan Khubilai Khan untuk menyatakan dirinya tidak mau takluk pada kemaharajaan Mongol dan mengawini putri Campa demi sebuah pertimbangan militer.

Dengan kesadaran sejarah seperti ini, Linda menjadikan persoalan-persoalan yang menarik perhatiannya memiliki lanskap kemanusiaan yang aktual dibanding sekedar imajinasi dan eksperimen literer seorang pengarang atau penulis cerita fiksi. Tentang yang terakhir, Linda juga telah membuktikannya dalam dua karyanya yang meraih dua kali penghargaan Khatulistiwa Literary Award. Prestasi mengagumkan tentunya. Sepertinya keindahan dan capaian literer Linda membuat juri yang menilai tidak memiliki pilihan lain selain mengagumi karyanya.

Jangan Tulis Kami Teroris adalah sebuah karya jurnalistik yang menarik. Sang pengarang bercerita kepada kita tentang peristiwa yang didengar dan pernyataan  orang-orang yang ditemuinya. Karya ini bukan lagi sekadar metafor dan imajinasi mengagumkan seperti tertuang dalam cerita pendeknya “Pohon Kersen” (Rahasia Selma, 2010). Dalam Jangan Tulis Kami Teroris, sang penulis ibarat peziarah yang bertemu dengan orang-orang di suatu tempat dan mencatatnya seperti Suma Oriental dari petualang cerdas asal Portugis, Tome Pires, yang berjarak beberapa abad dari periode waktu hidupnya.

Linda mencatat masyarakat dan orang-orang yang ditemuinya, mencoba menyusuri masa lalu serta pengalaman mereka. Ia memberi uraian-uraian dan argumentasi yang masuk akal sesuai dengan keyakinan dan perspektif intelektualnya. Buku ini menampilkan beragam wajah dan karakter orang dengan darah dan daging serta asal-usul permasalahan yang jelas. Narasi yang tampil menjadikan para ilmuwan sosial di Indonesia patut cemburu atas kekayaan sosok manusia yang diuraikan Linda dibanding tulisan-tulisan teoritis mereka yang kering dan membosankan, sekaligus narasi yang juga patut dicemburui oleh sastrawan yang hanya mengandalkan intuisi dan imajinasi tanpa berniat belajar lebih dalam kehidupan sekitar mereka tinggal.

Bagaimanapun Linda berbeda dengan Tome Pires. Si petualang itu lebih banyak mencatat kisah para raja, bangsawan, syahbandar dan orang-orang terkemuka dalam masyarakat yang dikunjunginya. Linda, yang kadang menyebut diri sebagai pengarang dan sekaligus jurnalis, bukan penulis bagi sosok hero dan heroine, romantik atau keindahan klasik dan glamour yang mengagumkan setiap peziarah. Linda menulis tentang orang-orang biasa—dengan pengalaman yang kadang dangkal dan sama sekali tidak mencerminkan wujud heroik sebesar Julius Caesar—seperti sosok yatim piatu yang diwakili Zia yang bercita-cita menjadi teuntra  karena Mamaknya dibunuh GAM, pedagang dari Sabang, dua orang nenek dengan bibir bergincu merah bata, kelompok gay di Aceh, atau seorang pengemudi tuktuk  di Kamboja setelah pembantaian Khmer Merah dalam perjalanannya menuju utara. Memang ada tokoh-tokoh penting mengisi tulisannya, seperti Hasan Tiro yang menjadi pemimpin gerakan kemerdekaan Aceh. Tetapi di sini sosok Hasan Tiro lebih tampil melalui ucapan dan anggapan orang-orang biasa di berbagai tempat di Aceh. Sepertinya Linda tidak memiliki selera besar untuk melihat kalangan atas—yang kadang bersinggungan dalam pergaulannya sehari-hari—yang menggali liang kubur atas keberhasilan yang mereka bangun dalam kehidupan mereka.

***

Apresiasi  kedua sudah barang tentu kualitas literer narasi dalam buku ini. Capaian literernya memang mengagumkan. Sifat mengagumkan itu bukan sekedar karena keindahan prosaik dan puitis narasi yang menjadi ciri penulis, tetapi juga kesegaran bahasa yang begitu bertenaga. Ketika bahasa jurnalisme nampaknya tidak lagi sanggup menggelontorkan apa yang menjadi isi kepala dan isi hati, penulis ini menggunakan bahasa lain yang sudah lama melekat dalam dirinya: sastra. Sehingga kita bagai menyaksikan  permainan kanak-kanak yang melompat pada satu kaki dengan paparan jurnalismenya dan melompat lagi dengan kaki lain yang kaya metafor dan puitik untuk menampilkan kesan-kesan penulis tentang realitas yang ditangkap panca-inderanya.

Izinkan saya berkomentar sedikit tentang ini. Belakangan, banyak penulis mencoba menggali nuansa literer cerita-cerita mereka dengan mengangkat tema dan latar kedaerahan dalam tulisan mereka. Ini bukan sebuah arus keliru atau dapat dipersalahkan tentunya. Persoalannya hanyalah tema dan pesan yang muncul seringkali terjebak dalam latar  kedaerahan yang mereka bentuk itu. Linda adalah penulis yang berhasil lepas dari jebakan tersebut. Sebuah cerita dalam buku fiksinya dengan latar kehidupan sehari-hari masyarakat Bangka tempat kelahirannya menempatkan kehidupan masyarakat yang dibicarakannya sebagai sekadar latar dengan kekuatan mengangkat persoalan kemanusiaan yang luas melebihi latar  cerita itu sendiri.

Dalam kaitan ini saya teringat akan semangat yang pernah membayangi para perintis gerakan anti-kolonial dan nasionalisme Indonesia pada dekade awal abad ke-20. Tidak dapat disangkal bahwa mereka adalah orang-orang dengan tradisi tertentu yang melatari kelahiran dan perkembangan intelektual mereka.

Tjipto Mangoenkusumo adalah salah satu sosok menarik yang mungkin dapat memberi ilustrasi tentang ini. Ia seorang Jawa, tetapi ia memilih keluar dari Boedi Oetomo ketika organisasi itu memutuskan membangun nasionalisme Jawa di dalam orientasi ideologisnya. Tjipto adalah anak zaman yang menyadari bahwa bumi Jawa tempatnya dilahirkan sudah tidak lagi mampu menampung hasrat dirinya pribadi dan orang-orang seperti dirinya.

Pada awal abad ke-20, di Pulau Jawa sudah bermukim jutaan orang dengan asal-usul, warna kulit, bahasa, dan harapan yang tidak lagi dapat ditampung oleh budaya dan tradisi Jawa. Memasuki abad ke-20, pulau itu sudah menjelma menjadi jantung masyarakat Hindia-Belanda.  Dengan alasan ini pula, Tjipto bersama dua sahabatnya mendirikan sebuah organisasi baru yang lebih sesuai dengan kehidupan modern yang mereka alami. Organisasi itu adalah Indische Partij yang dibentuknya bersama Douwess Dekker dan Suwardi Surjaningrat, yang mereka bertiga yakini (Hinda Belanda sebelum menjadi Indonesia) adalah ekspresi harapan dan intelektualitas yang ingin mereka wujudkan dibanding tradisi masa lalu mereka.

Tjipto memutuskan keluar dari lingkungan kecilnya untuk membangun masyarakat lebih besar (dan sekaligus baru sama sekali) dibanding masyarakat Jawa tempat ia tumbuh besar. Begitu juga dengan tokoh-tokoh lain seperti Sukarno, Hatta dan Sjahrir. Mereka tidak pernah bermimpi membangun kehidupan baru semata-mata bagi masyarakat asal mereka lahir dan tumbuh dewasa. Mereka membangun masyarakat baru bernama Indonesia sebagai upaya membebaskan manusia di Hindia-Belanda dari belenggu kolonialisme dan feodalisme.

Re-tradisionalisasi dalam arus sastra kontemporer Indonesia sekarang ini dalam satu sisi menegaskan sebuah pencarian baru dalam berestetika sekaligus mewakili kegamangan terhadap sifat nasional Indonesia yang saat ini lebih sering dilihat dengan segala batasan dan kekangan dibanding sebuah ekspresi yang mengandung pembebasan. Tetapi di lain pihak, re-tradisionalisasi juga bisa jadi tempurung yang membatalkan cita-cita kemanusiaan dalam konservativisme dan kekolotan. Hal ini juga yang kelak dimanfaatkan oleh penguasa kolonial Hindia Belanda saat itu,  yang dengan sadar mencoba melawan arus emansipasi gerakan nasionalisme Indonesia dengan memunculkan kembali minat pada adat dan tradisi, diiring tindakan mengisi lembaga kekuasaan dengan para pemimpin yang terdiri dari tokoh-tokoh adat untuk menghantam golongan cendikiawan bersifat Hindia-Belanda yang baru lahir saat itu, yang tentunya berhasrat merobohkan bangunan kekuasaan kolonialisme di satu sisi dan konservativisme feodal masyarakat mereka sendiri di sisi lain.

Linda dan ekspresi literernya seolah tampil seperti sosok cendikiawan Hindia-Belanda dekade awal abad ke-20 dengan semangat emansipasi yang meninggalkan ruang lingkup kecil masyarakat mereka untuk berurusan dengan sebuah masyarakat yang lebih besar dari tempat kelahiran mereka, dan tentunya masyarakat yang benar-benar bersifat baru. Sayup-sayup saya mendengar gema Kartini dengan bahasa cerdas tentang impian kemajuan masyarakat Hindia-Belanda. Ketika berbicara tentang Aceh dalam diskusi peluncuran bukunya, Linda dengan wajah serius mempersoalkan kebiasaan orang-orang yang ditemuinya membicarakan kejayaan masa lalu Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda. “Sebuah anakronisme dalam sejarah, dan jauh dari cita-cita pembebasan”, begitu katanya. Posisi Linda jelas. Ia mengambil jalan seperti yang pernah dilakukan Tjipto pada awal abad ke-20.

Dalam kaitan ini pula Linda menjadi penerus sahih prestasi  Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Bumi Manusia-nya yang menakjubkan dengan perhatian dan cara baru tentunya.

Pramoedya bergelut dengan persoalan abad ke-20. Linda sekarang berjalan dalam permasalahan berbeda di abad ke-21. Paling tidak karya-karyanya terdahulu dan dalam buku ini telah memberikan indikasi pada arahan seperti itu: sebuah karya sastra bersifat nasional yang tidak terjebak pada kosmopolitanisme nihilistik  kelas menengah di Indonesia sekarang. Linda pun tidak bermimpi menjadi seorang epigon orang-orang dengan karya-karya besar di Amerika Utara dan Eropa Barat, atau bahkan ‘orang-orang yang merasa besar’ di sekitarnya di Indonesia.

Linda menawarkan kepada kita sebuah persoalan yang sesama orang Indonesia lainnya bisa dirasakan dalam latar waktu abad ke-21, dengan kandungan masalah dan persoalan yang sudah tentu berbeda dengan generasi abad sebelumnya. Ia menyatakan  “terus bergerak ke utara, menuju Asia Tenggara”, dan “Aceh makin sayup di belakang sana”. Tetapi kita tetap tidak pernah ditinggalkan oleh Linda. Kita merasakan kehadiran diri kita membayangi perjalanan Linda menuju utara.

***

Dalam  buku ini Linda menceritakan orang-orang yang terlupakan, duka yang dalam, ketersingkiran dan sekaligus kegagapan serta keterasingan sosok yang menjadi cerita saat berurusan dengan dinamika kehidupan sekitarnya. Kadang mereka seperti kehilangan harapan dan orientasi terhadap hidupnya. Pengalamannya tentang Aceh dan orang-orang di dalamnya, sejarah dan budaya orang-orang yang ditemuinya, muncul seperti bayang samar impresionisme Claude  Monnet.  Ia mengamati semua itu dan menjadikannya sebagai tulisan. Bagi pembaca,  kita diajak menyaksikan sebuah kehidupan dari balik kaca  jendela yang basah oleh tempias hujan dan menampilkan kepada kita bias bayangan menawan. Kehidupan itu berjalan apa adanya. Namun, bias cahaya yang indah adalah sudut pandang yang lahir dari semangat dan cita-cita pribadi penulis tentang bagaimana kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih manusiawi dalam pengalaman kita sekarang.

Di sini memang Linda adalah pemerhati yang teliti tentang orang-orang di jalanan, mengamati mereka menikmati kopi pagi dan sore hari,  mendengarkan percakapan di pasar dan kedai, dan berhasrat mengenal dekat sosok-sosok yang ditemuinya. Dan ia cukup eksentrik dalam bersentuhan dengan sosok-sosok tersebut.

Sentuhan seperti ini mengingatkan saya pada sebuah arus yang populer di universitas-universitas Amerika Utara mengenai sastra: yaitu pembentukan konter-kanon dengan label ‘Sastra Dunia Ketiga’.  Salah seorang juru baptis utama dalam arahan ini, Frederic Jameson, menasbihkan tentang apa yang disebut sebagai Sastra Dunia Ketiga sebagai ‘alegori-alegori nasional.’ Jameson meletakkan definisi itu dalam formula biner antara nasionalisme/pascamodernisme dan menegaskan kontra-budaya dominasi global Amerika Utara dan Eropa Barat tidak lain adalah nasionalisme itu sendiri. Membaca karya Linda, formula yang ditawarkan Jameson tentang Sastra Dunia Ketiga sebagai semata-mata alegori nasional menjadi kurang lengkap (bagaimanapun saya tidak ingin menihilkan secara total gagasan itu).

Tidak dapat disangkal bahwa dalam kacamata dominasi global budaya pascamodernis Amerika sekarang, Jameson mencoba melihat nasionalisme Dunia Ketiga sebagai antitesanya, sekaligus juga kontra-kanon yang dipelajari di universitas-universitas Amerika Utara dan Eropa Barat. Tetapi nasionalisme itu sendiri bukan sebuah konsep tunggal tanpa persinggungan dengan alternatif sesungguhnya terhadap proyek imperialisme dan kolonialisme Barat abad ke-20: persentuhannya dengan proyek pembebasan lain (dan utamanya gagasan sosialisme) yang melahirkan negara-negara baru di benua Asia dan Afrika. Di Indonesia, wujud gagasan nasionalisme melahirkan sebuah konsepsi Sosialisme a’la Indonesia seperti disuarakan lantang interlukatornya, Sukarno. Begitu pula dengan sosialisme Afrika Utara di bawah Nasser yang menjadi dasar ‘kebangkitan’ dunia Arab setelah kemunduran berabad-abad menyusul kekalahan mereka melawan koalisi gabungan tentara Salib di Granada.

Sebuah negara nasional adalah alat penting para pemimpin Dunia Ketiga dalam menjalankan agenda-agenda emansipasi melawan dominasi kapitalisme Eropa Barat dan Amerika Utara. Sampai sekarang nampaknya alat itu cukup efektif. Orwell dalam 1984 menampilkan ketakutan umum tentang Saudara Tua yang membuat para intelektual dan sastrawan, mungkin juga Linda, merasa jengah di dalamnya. Saudara Tua adalah sosok negara yang omnipresent dan omnipotent dalam pengalaman Uni Soviet atau Rusia sekarang. Tetapi ketika Saudara Tua itu hancur, orang kecil yang tinggal di dalamnya pun tidak merasa bebas dari ketakutan dan rasa putus asa berhadapan dengan persoalan klasik ketimpangan dalam kapitalisme yang berkembang di sana dan termasuk di dalamnya mafia pencoleng (dan sekaligus pemabuk seperti Boris Yeltsin) yang memegang kekuasaan negara.

Pengalaman kita pun seperti itu. Ketika seorang perempuan buruh migran asal Indonesia dipancung di negeri tempatnya bekerja, orang pun terhenyak dan marah. Ada pelajaran penting dalam kasus ini.  Dalam era ‘tanpa negara dan bangsa’ seperti menjadi keyakinan kelas menengah dengan gaya kosmopolitannya, ternyata tidak ada lembaga internasional yang mampu melindungi buruh perempuan itu—dan yang lainnya—untuk tidak dipancung di tempat kerja mereka selain negara nasional tempatnya berasal. Kalaupun ada lembaga-lembaga internasional (lebih banyak diwakili oleh perusahaan multi-nasional raksasa), kita pun sulit menuntut pertanggungjawabannya. Ini realitas yang cukup telanjang.

Tulisan-tulisan Linda dalam buku ini berada dalam pusaran negara-negara nasional itu, dari ujung paling barat Indonesia sampai dengan arah utara di Asia Tenggara. Namun, itu bukan sekedar alegori nasional ala Jameson. Menyuarakan ketidakadilan dan kesewenangan dalam Jangan Tulis Kami Teroris melebihi artikulasi sebuah alegori nasional. Meski tidak dapat disangkal  bahwa dalam era sekarang ini,  radikalisme ‘Dunia Ketiga’ mengusung sosialisme sebagai antitesa kapitalisme telah menjadi sebatas cerita sejarah. Mungkin juga sebuah dongeng pengantar tidur ketika  para ibu kita memulai ceritanya dengan kalimat “pada suatu masa…. “

Linda berada dalam suatu periode ketika proyek pembebasan dari ketidakadilan dan kesewenangan kehilangan motor penggeraknya, ketika pmikiran berkembang tapi kekuatan yang menopangnya telah hancur berantakan. Tidak ada organisasi serikat buruh dan petani pedesaan yang menuntut kehidupan demokrasi sampai paling dasar pada kebutuhan manusiawi. Tetapi ada yang pasti, mereka sekarang tetap menjadi sasaran eksploitasi l’home par l’home.

Apa yang dijumpai Linda sekarang adalah sebuah era ketika politik di tangan politisi yang menganggap politik tidak lebih sekedar profesi dan pekerjaan yang memberikan mereka imbalan pundi-pundi kekayaan. Tidak berbeda banyak dengan profesi lain seperti pengusaha dan pedagang. Politik bukan lagi sebuah seni bagi kehidupan.

***

Di bagian ini saya ingin mengulas sedikit tentang ‘posisi’ seorang penulis dan imajinasi dalam tulisannya. “Ketika menyiapkan buku ini, saya baru menyadari bahwa Aceh menjadi titik tolak saya untuk terus bergerak ke utara, menuju negara-negara Asia Tenggara.” Kalimat pertama dalam buku ini mengundang pertanyaan dalam benak. Perhatikan lanjutan kalimat pembukaannya. “Saya menduga kelak saya akan benar-benar berjalan lebih jauh dan Aceh makin sayup di belakang sana, di masa silam yang berharga.” Apabila saya seorang kanak-kanak (untuk membandingkan dengan Aceh setelah Perjanjian Helsinki di  bulan Agustus 2005) dan mendengarkan ibundanya berkata seperti itu, sudah tentu saya tersentak. Tetapi apa daya seorang kanak-kanak. Ia mungkin hanya memandang dengan serangkaian pertanyaan tanpa sanggup ia lontarkan. Mengapa, hendak ke mana dan apa yang terjadi? Tetapi sekali lagi ini bukan pertanyaan yang sanggup dilontarkan. Seorang kanak-kanak hanya dapat menyaksikan bagaimana ibunda tercinta sedang melipat pakaian dan membereskan koper yang siap dijinjing. Perjalanan seperti apa di masa depan yang hendak ditempuh seorang penulis yang telah menjadikan Aceh sebagai tempat tinggal dalam beberapa tahun terakhir? Apabila saya seorang Aceh tentu saya mengajukan pertanyaan ini dengan kejengkelan dalam hati. Tetapi saya coba memahami apa yang saya mampu pahami.

“Saya baru menyadari” dalam kutipan di atas juga seperti ironi seorang penulis yang mencoba menjelaskan bahwa pengasingan-diri (self-exile) adalah sebuah cara mengatasi ambivalensi dan kondisionalitas bagi daya kreatifnya. Namun, ini bukan cerita baru. Johann Wolfgang von Goethe mengembara beberapa waktu sebelum hadir dengan Komedi Suci yang menggetarkan itu. Siapapun bisa menambah nama penulis lainnya dalam deretan ini. “Saya baru menyadari” dari tulisan Linda sekaligus menyatakan bahwa keterasingan (pengasingan) adalah keputusan yang dibuat sendiri, bisa sepenuh hati atau juga setengahnya. Ini sebuah self-exile dengan beragam alasan.

Dalam cerita abad ke-20, kita menyaksikan bahwa pertarungan ideologi dalam negara-negara baru yang menyelesaikan proses dekolonisasi mereka telah menjadikan ‘pengasingan’ sebagian  bagian tak terpisahkan dari nasib individu-individu di dalamnya. Kediktatoran militer yang bersekutu dengan modal imperialisme Amerika Utara dan Eropa Barat telah menyingkirkan para pembaharu yang terpaksa harus hengkang dari negeri asalnya. Dalam skala global, kita mendapatkan sosok Pablo Neruda. Dalam cerita sejarah Indonesia, kita pun mendapatkan apa yang disebut sebagai ‘sastra-eksil’. Di sini kita mendapatkan ketercerabutan paksa, dislokasi dan kepedihan tentang negeri asal yang bisa jadi mewujud dalam sonata cinta yang menggebu-gebu dari Neruda. Membaca karya Linda, saya mencoba mencari keterpaksaan itu. Tetapi tidak saya temukan dalam peristiwa-peristiwa (orang yang akrab dengan latar sejarah memang selalu menjadikan peristiwa sebagai orientasi utama pekerjaannya) yang ditulisnya. Jawaban dan pernyataan itu hanya dapat diungkapkan penulisnya sendiri.

Namun, ada juga keterasingan lain di era kapitalisme mutakhir. Dalam hal  ini lensa sejarah jadi berguna. Saya ingin mengutip Salman Rushdie yang juga dikutip Aijaz Ahmad (1992) dalam menjelaskan posisi keterasingan atau lebih tepatnya pengasingan diri ini. Tentang posisi dirinya, Rushdie mengatakan, “I tell myself this will be a novel of leavetaking, my last words on the East from which, many years ago, I began to come loose. I do not always believe myself when I say this. It is part of the world to which, whether I like it or not, I am still joined, if only by elastic bond…We have floated upwards from history, from memory and from Time. (Ahmad, 1992: 133).” Kalimat Rushdie mengingatkan saya pada awal kalimat Jangan Tulis Kami Teroris. Rushdie meninggalkan the East dan Linda menuju utara. Rushdie merasa sesak dengan realitas Pakistan dalam Shame dan Linda dalam buku ini menyatakan “ketidakadilan dan kesewenang-wenangan terjadi dengan mengatasnamakan apa saja”.

Tetapi persoalan kesadaran pascamodernis era kapitalisme mutakhir adalah seseorang bebas memilih untuk tidak menjadi bagian dari apapun. Abad ke-20 telah menciptakan sebuah industrial killings di dalamnya. Ia membunuh jutaan manusia secara fisik. Sekarang ini, techno-cyber-industry abad ke-21 pun memiliki perangkat menghancurkan, bahkan dalam skala mondial meliputi lima benua. Ia masuk lebih dalam untuk membunuh jiwa dan keyakinan orang banyak untuk tidak jadi apa-apa dan pun juga tidak menjadi bagian apa-apa. Ada kekhawatiran terselip bagi saya ketika membaca buku ini yang sedikit membuat sesak napas.

Ketika Francis Fukuyama melontarkan tesis tentang ‘akhir sejarah’, orang tertawa dan menganggapnya sekedar lelucon. Tapi  ‘akhir sejarah’ barangkali menjadi metafor berguna menjelaskan kondisi seperti ini. Tidak ada apapun selain kapital yang terus bergerak maju dengan krisis demi krisis yang semakin pendek rentang waktunya. Kita semakin tercabik dalam sinisme dan skeptisme. Satu sisi ini melindungi diri yang semakin tidak mampu melakukan apapun. Sisi lain takut berbuat gagal karena sejarah telah menunjukan rangkaian kegagalan itu. ‘Membuat sejarah’ bukan lagi membebaskan dari ketidakadilan dan kesewenangan, tetapi seringkali tercebur menciptakan lingkaran ketidakadilan dan kesewenangan baru.  Jadi untuk apa sebuah sejarah! Mungkin begitu nalar yang berkembang.

Percakapan di malam peluncuran buku bersama penulis memberikan kesan bahwa Linda tidak jatuh dalam Derridian grande celebration seperti itu. Mungkin tepatnya ia sedang berjalan di titian sempit dengan tepi kanan dan kiri jurang nihilisme kelam. Ia tetap bukan seorang seorang kelas menengah yang gemar berbelanja di sebuah supermarket ketika memilih setiap posisi subyek untuk dirinya. Ada kesetiaan dalam diri Linda. Bagaimanapun ini posisi sulit. Ia harus menghadapi kondisi sejarah yang tidak lagi menyertakan subyek dan proyek-proyek pembebasan kolektif yang membentuk pengalaman dan keyakinan masa muda penulis buku ini.

Sebagai bagian dari generasi aktivis dekade 1990-an, Linda mengalami tentang apa yang membentuk harapan dari proyek-proyek pembebasan yang memberinya raison d’etre sebagai individu, sebagai pengarang dan intelektual. Sesuatu yang hilang memang hanya kekuatan kolektif tempat pengarang ini menjadi bagian kekuatan yang pernah ada, yang kemudian hancur. Ini menjadikan harapan sebagai keyakinan (fidelity) bertekuk pada keadaan menunggu kedatangan lain tanpa ia sendiri sanggup meramalkannya. Dalam kaitan ini, kehilangan seperti itu menyebabkan duka, kegagapan dan keterasingan sosok yang diceritakannya sepertinya juga berlaku bagi penulis buku ini. Semua sudah jadi sejarah.

Saya pun berpendapat biar saja hal tersebut jadi sejarah,  pelajaran masa lalu, tanpa perlu terikat lagi dengannya. Manusia terikat oleh sejarah, dan keistimewaannya,  justru membuat mereka mencipta sejarah lagi. Kondisi ini yang saya harapkan.

Jangan Tulis Kami Teroris adalah sebuah keindahan yang mengundang banyak tanya. Boleh jadi ini sekedar dugaan dan penafsiran subjektif.  Ia tampil sebagai teka-teki yang muncul dalam benak ketika selesai membaca buku ini. Sepertinya saya tengah membaca pula sosok penulis kesepian, seorang ‘pengamat luar’ yang menjadikan kesibukan dan perjalanannya menjadi penting karena ‘seolah’ membantunya memberi orientasi terhadap apa yang ingin didapat dan sekaligus juga penting untuk menciptakan kedekatan dengan orang-orang sekitar dan juga tempatnya berpijak. Apakah harus seperti ini dunia bagi seorang penulis yang sejak kanak-kanak dirinya sadar bahwa hidupnya akan jadi penulis? Semoga dunia bukan sekedar akuarium tempat seekor ikan hias bergerak di dalamnya, terpenjara, merasa bosan dan putus asa.

Membaca buku Linda meyakinkan saya bahwa harapan melakukan pembebasan tetap ada di setiap benak dan jiwa banyak orang. Kehancuran (seperti membentuk keyakinan para penganut Shiwa) bukan akhir segalanya. Seorang pengemudi tuktuk di Kamboja yakin bahwa ada masa depan lebih baik yang mungkin dicapainya setelah kehancuran keluarga dan dirinya pribadi di Tahun Nol. Meski belum tahu bentuknya, ia meyakini selalu ada sesuatu yang baru lahir dari puing-puing yang tersisa. Linda telah memberi kisah ini kepada kita. Saya pun ingin berharap, seperti pengemudi tuktuk itu, bahwa Linda, saya, dan kita semua tetap bisa memupuk antusiasme dan harapan terkecil menciptakan sesuatu dan menjadi bagian dari sesuatu itu. Boleh jadi kita belum tahu bagaimana bentuk sesuatu yang akan datang itu. Kita memang belum punya preskripsi yang cukup jelas tentang apa yang akan datang itu dan bagaimana kita turut membentuknya. Tapi paling tidak kita punya keyakinan untuk siap menyongsongnya. Sebab ketidakadilan dan kesewenang-wenangan terjadi di mana-mana.

***

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s