Folktale of Massacre: Cerita Rakyat tentang Pembantaian 1965

Pemuda-2
Repro foto koleksi Pustaka Yayasan Idayu, Jakarta.

Dalam kehidupan kita sekarang, bulan Oktober sekarang mungkin ini bulan yang biasa saja. Tapi, sebagai seorang yang belajar sejarah, nampaknya perlu saya sampaikan bahwa bulan-bulan ini pernah menjadi bulan yang mengerikan bagi mayoritas penduduk Indonesia. Pada pertengahan Oktober 1965 sampai dengan awal tahun 1966, orang-orang komunis dan mereka yang dituduh komunis menjadi korban pembantaian massal di berbagai tempat di Indonesia. Memang sumber-sumber sejarah yang ada sampai sekarang tetap simpang siur terkait pertanyaan berapa jumlah korban yang tewas dalam peristiwa tersebut. Angka paling umum merentang dari sekitar 500.000 sampai sejuta orang tewas. Bagaimanapun, persoalannya bukan sekedar berapa banyak korban tewas dalam peristiwa tersebut, melainkan juga bagaimana kekerasan tersebut “bisa terjadi” dan “dimungkinkan terjadi” dalam pengalaman sejarah Indonesia abad ke-20.

Tulisan ini adalah sebuah catatan ringkas dari pertemuan dengan beberapa informan ketika saya melakukan penelitian di wilayah pedesaan Jawa Timur, tepatnya Kediri, pada awal 2000  berkait dengan peristiwa pembantaian massal 1965. Tidak dapat disangkal, sudah cukup banyak kajian penting dan menarik mengenai apa yang terjadi dan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Tulisan ini dengan hanya memberi catatan kecil dari kesan-kesan yang muncul dalam pengalaman berbicara dengan penduduk desa tentang peristiwa yang pernah terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.

Cerita-Cerita

Sekarang saya langsung saja menceritakan kesan-kesan yang muncul dalam beberapa pertemuan dengan beberapa penduduk desa ketika berbicara tentang peristiwa 1965 di tempat kajian yang saya lakukan. Setelah ngalor-ngidul bicara hal-hal penting, tiba-tiba salah seorang pemuda berbicara tentang sosok seorang bernama Hasan (bukan nama sebenarnya). Dengan menyadari keberadaan saya, mereka menyinggung sedikit tentang sosok Hasan. Di masa mudanya, Hasan adalah seorang ‘jago’ yang membuktikan keberaniannya dengan melakukan eksekusi-eksekusi terhadap orang-orang komunis di desanya. Ringkas kata, meskipun kebencian anti-komunis bukan sebuah kebencian yang dimiliki Hasan seorang di desa tersebut, tetapi hanya Hasan lah yang benar-benar menjadikan tangannya berlumuran darah orang-orang komunis. Dan, pembicaraan pun menjadi seperti gosip mengenai sosok-sosok orang yang menyerupai Hasan di desa-desa tetangga yang menjadi tempat penelitian saya. Saya merekam dan membuat catatan mengenai cerita-cerita tersebut.

Pemuda-1
Sumber Foto: Repro Pustaka Yayasan Idayu, Jakarta.

Saat kembali ke tempat tinggal, tuan rumah saya menambahkan cerita tentang Hasan. Dia adalah seorang yang sekarang tinggal sendirian, tanpa anak dan cucu. Kehidupannya dalam standar penduduk desa tersebut tergolong miskin. Masa lalu Hasan, seperti dituturkan oleh tuan rumah saya, tidak seperti sekarang ini. Ia relatif makmur dengan beberapa bidang tanah yang dimilikinya. Tetapi, sejak keterlibatannya dalam peristiwa pembunuhan anti-komunis, atau tangannya berlumuran darah, secara beruntun kemalangan menimpa dirinya. Dia mengalami kematian anaknya, kegagalan dalam pernikahan, dan kehilangan harta benda dan kini hidup dalam keadaan serba kurang yang menimbulkan iba hati orang-orang desa. ‘Itu mungkin adalah akibat dari perbuatannya sendiri’, demikian tuan rumah saya menutup pembicaraan.

Pernyataan terakhir menjadi kalimat yang paling menarik dalam catatan yang saya buat tentang sosok Hasan. Ketika saya bertemu dengan setiap orang yang masuk dalam daftar informan, khususnya dari mereka yang dalam masa mudanya terlibat aktif dalam gerakan anti-komunis, cerita-cerita yang sama senantiasa muncul dengan variasi tentang bagaimana bentuk kemalangan yang dialami seseorang. Salah seorang informan saya, seorang pemimpin organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama, menyebutkan beberapa cerita tentang bagaimana para pelaku kekerasan di masa lalu, yang tangannya langsung berlumuran darah, memiliki akhir hidup yang mengenaskan. Ada seorang ustad (pengajar agama) yang mati tertabrak kereta. Ada juga orang yang kemudian menjadi gila, dan lebih umum lagi cerita bagaimana orang-orang yang kemudian jatuh miskin menyusul setelah keterlibatan mereka dalam pembantaian anti-komunis.

Sebuah Penyesalan Kolektif?

Pertanyaannya adalah, apakah arti semua cerita-cerita tersebut? Pertanyaan ini tidak terjawab sampai saya kembali dari tempat penelitian yang saya lakukan, dan refleksi akhirlah yang akhirnya mengantarkan saya untuk menamakan cerita-cerita yang saya kumpulkan itu sebagai ‘folktale of massacre’. Ada beberapa cerita lain–dari tempat lain di luar Jawa-dalam kaitan ini. Sebagai contoh, di Sulawesi Tenggara, daerah Buton (yang dahulu menjadi basis kuat gerakan kiri pada tahun 1965) terdapat cerita seperti “ayam jago pun tidak lagi berkokok’ yang mencerminkan betapa kengerian dalam psikologi popular masyarakat. Tetapi ini merupakan cerita dan pokok bahasan lain.

Wilayah Kediri yang menjadi tempat penelitian yang saya lakukan memang kaya dengan cerita-cerita sekitar apa yang terjadi pada tahun 1965. Dan cerita-cerita tentang periode tersebut, dengan berbagai variasi dan penambahan bunga-bunga cerita yang menambah warna dari para penutur, nampaknya terabadikan menjadi ingatan kolektif penduduk desa tempat saya melakukan penelitian.

Cukup menarik, bahwa ini adalah sebuah ingatan yang muncul dari bawah, karena pada saat yang sama, desa tersebut telah mengabadikan peristiwa yang terjadi beberapa dekade silam dengan perubahan nama tiga desa di sekitar perkebunan yang sebelumnya menjadi basis kekuatan PKI pada dekade 1960an. Nama ketiga desa tersebut adalah desa Trisula A, Trisula B, dan Trisula C. Dalam periode tersebut, Trisula adalah nama sandi operasi militer yang dilakukan oleh pihak angkatan darat ketika mereka berusaha menghancurkan sisa-sisa kekuatan komunis yang bertahan di Blitar sampai tahun 1969. Jadi, di sini kita mendapatkan dua bentuk ingatan, antara yang simpang siur dan terkadang penuh mitos, dengan sebuah proyek resmi negara mengenai kisah yang terjadi pada masa lalu di wilayah itu.

Kenangan dari bawah ini mengingatkan saya pada uraian Hermawan Sulistyo mengenai peristiwa pembantaian di Kediri ketika bertanya kepada informannya apakah dia terlibat dalam pembunuhan langsung terhadap orang-orang komunis? Sulistyo menulis ‘dalam wawancara yang saya lakukan, ia menolak anggapan bahwa ia secara langsung mengeksekusi orang-orang PKI. Ia mengatakan bahwa ia sesungguhnya memiliki keinginan untuk terlibat dalam pembunuhan langsung, tetapi anaknya telah mengatakan untuk jangan terlibat secara langsung.’ Catatan menarik Sulistyo adalah ‘barangkali tidak ada alasan untuk tidak mempercayai ceritanya, tetapi cukup meragukan bahwa pada saat itu mengingat posisinya sebagai manajer pembunuhan’ [Hermawan Sulistyo, 2000: 182]

Dalam kaitan ini, mungkin Sulistyo telah kehilangan satu ‘pesan’ penting yang disampaikan informannya mengenai posisi dirinya. Saya ingin membandingkan hasil wawancara Sulistyo dengan wawancara yang saya lakukan terhadap salah seorang pimpinan organisasi pemuda di tingkat desa yang saat itu aktif dalam kegiatan pembantaian anti-komunis. Ia mengatakan hal ini menjawab pertanyaan saya apakah ia pernah terlibat membunuh langsung orang-orang komunis:

Saya tidak pernah membunuh siapapun … Saya hanya mengarahkan dan memimpin anak-anak … Tangan saya masih bersih … Sejauh yang saya tahu setelah peristiwa, banyak para eksekutor lapangan menjadi gila atau menghadapi kematian yang tragis. Ada seorang Ustad di desa ini yang mati mengenaskan tergilas kereta api … benar-benar tragis … [wawancara penulis]

Dalam kaitan ini saya mendapatkan kesan bahwa sifat cerita yang muncul—berkait juga dengan cerita-cerita mengenai nasib mengenaskan para eksekutor—lebih menggambarkan tentang kedudukan diri mereka di masa kini. Mereka tidak sedang menyampaikan peristiwa masa lalu, tetapi lebih menuturkan tentang bagaimana ‘keyakinan’ atau persepsi moral mereka mengenai pembunuhan tersebut.

Tema ini mengingatkan saya pada karya Eugen Weber mengenai tradisi oral para petani Prancis yang setidaknya dapat menjadi bahan perbandingan mereka. Weber melukiskan bahwa selama abad ke-19, apabila diperhatikan bagaimana bentuk cerita-cerita rakyat yang beredar di kalangan petani, maka sesungguhnya kita mendapatkan sebuah kecenderungan tentang ‘transmutasi pengalaman-pengalaman kekinian, baik ketegangan maupun gejolak yang mereka alami menjadi sebuah dongeng atau cerita rakyat. Mengutip Weber, cerita-cerita tersebut lebih berfungsi sebagai ‘ “a substitute for impossible action, the possibility of projecting hatreds and resentments, of rejecting fears, of situating misery, toil and terror in some other world where they could be mastered by magic means or simply by fictional fulfilment”. Apabila dalam cerita asli Cinderella kita mendapatkan gambaran bahwa ia adalah putri seorang bangsawan kaya, dalam tradisi petani maka terdapat versi tentang Cinderella yang merupakan gadis petani yang bekerja sebagai penggembala dan pemintal kain.[1]

Di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, ketika kaum Nasionalis, Agama dan Komunis saling bertarung mendapatkan dukungan petani, maka dengan gampang kita mendapatkan bagaimana jejak cerita-cerita tentang peristiwa tersebut, baik dari perspektif korban maupun pelaku pembantaian. Mereka akan melukiskan bagaimana halaman belakang rumah mereka, sungai dan hutan di sekitarnya, atau sawah-sawah yang agak berjarak jauh dari tempat tinggal, adalah tempat yang dahulunya menjadi lokasi pembantaian.

Namun yang lebih menarik, dalam sebuah masyarakat yang kuat dengan tradisi lisan dibandingkan tulisan, kita banyak mendapatkan gambaran peristiwa masa lalu tersebut dalam bentuk simbol-simbol cerita populer yang hidup di kalangan mereka sendiri. Gambaran tentang pembantaian tersebut, berikut alasannya, lebih sering ditekankan pada cerita tentang bagaimana mereka saling mengadu kesaktian antara pengikut komunis dan Islam, yang masing-masing percaya pada jimat dan kekebalan. Cerita bagaimana banyak tokoh-tokoh penting komunis hanya dapat mati bila ditusuk oleh bambu kuning adalah sebagian dari cerita ini dan ini cerita ini memang bukan hal baru dalam lapangan kajian pembantaian massal 1965.

Jadi, kembali tentang cerita mereka mengenai sosok orang-orang yang dahulu terlibat aktif dalam pembunuhan—termasuk penolakan orang-orang yang dianggap memiliki kedudukan penting dalam kegiatan anti-komunis berkait dengan keterlibatan pribadi mereka dalam pembunuhan—adalah sebuah pesan moral yang terbentuk secara post-factum mengenai apa yang terjadi. Orang-orang desa telah menamakan para eksekutor tersebut sebagai algojo atau penyembeleh, yang bukan sebuah istilah terhormat untuk disandang oleh pelaku.

Dan cerita-cerita itu telah menempatkan para pelaku dalam lukisan kehidupan tragis, terlepas apakah kematian dan kemiskinan tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, politik dan sosial di dalam dan luar masyarakat mereka yang sulit dipahami. Tetapi, ada sebuah kerangka yang menempatkan pelaku masa lalu dalam sebuah potret suram masa lalu yang membentuk sejarah Indonesia modern, paling tidak sebuah versi masa lalu yang fragmentary dan penuh dengan mitos, tetapi hidup di dalam masyarakatnya.

 

Catatan Akhir

Dilihat dari sudut pandang ini, ada kesan tentang sebuah moral kolektif di dalam kehidupan masyarakat Jawa saat ini tentang apa yang telah terjadi dalam masyarakat mereka beberapa dekade yang silam. Cerita tentang bagaimana kerusakan hidup para penyembeleh dan algojo dari peristiwa pembantaian bagaimanapun dapat kita pahami sebagai sebuah konstruksi moral bersifat post-factum yang beredar di kalangan masyarakat pedesaan Jawa tempat pembantaian-pembantaian yang melibatkan mereka terjadi. Persoalan yang penting ditekankan adalah bukan gambaran masa lalu yang didapat—dari hasil percakapan kita dengan sejumlah informan—tetapi lebih pada kesadaran diri saat ini yang diproyeksikan dengan peristiwa yang telah terjadi.

Menjadi menarik bahwa dalam situasi Indonesia kontemporer, penyesalan tersebut pernah dilontarkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, meskipun kemudian ia harus menghadapi serangan politik atas ‘permintaan maaf’ terhadap kekerasan anti-komunis yang pernah terjadi pada tahun 1965-66. Dan memang ini masih menjadi masalah dalam politik Indonesia kontemporer.

Bagaimanapun, cerita-cerita yang beredar memberikan kesan—paling tidak kepada penulis—tentang satu bentuk ‘penyesalan’ kolektif dalam bentuk lain yang beredar di lingkup pedesaan, terutama tempat yang menjadi ajang pembantaian massal. Setidaknya, dalam bentuk yang lebih sederhana kita mendapatkan sebuah gambaran ‘penyesalan’ yang mungkin menjadi bahan ‘pembelajaran’ sejarah lisan yang hidup di wilayah pedesaan.

Pengalaman Jerman dalam sejarah pembantaian massal atas orang-orang Yahudi dalam kaitan ini memberikan perbandingan menarik. Pengadilan Nuremberg yang mengadili para penjahat perang sekaligus telah membantu pelembagaan penyesalan kolektif atas peristiwa holocaust dalam sejarah mereka, termasuk membentuk arus ‘penyesalan’ dalam historiografi sejarah kontemporer mereka. Membandingkan dengan peristiwa yang terjadi di Indonesia, pertanyaannya apakah mungkin sebuah inisiatif—dalam koridor politik Indonesia kontemporer—bisa menjadi landasan penyesalan yang kita temui bukan saja dari cerita-cerita lisan penduduk desa?

fde42-thelastjewinvinnitsa1941
Yahudi Terakhir di Vinnitsa (Ukraina, 1941)
Advertisements

2 thoughts on “Folktale of Massacre: Cerita Rakyat tentang Pembantaian 1965

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s