Erosi yang Mencemaskan

sumber foto: http://medan.tribunnews.wordpress.com

Pagi ini saya membaca berita pengadilan terhadap nenek Asyani yang mencuri dua balok kayu ‘milik negara’ di Desa Jatibanteng, Situbondo, Jawa Timur. Sementara di  halaman lain kita mendapatkan berita tentang remisi bagi para koruptor. Mengenaskan. Di bagian lainnya, dalam potongan berita kecil, saya membaca tentang Gerakan Cinta Pancasila yang diwakili artis Rieke Roeslan. Gerakan itu muncul seiring dengan keprihatinan terhadap “erosi nilai-nilai (Pancasila) di kalangan generasi muda”. (Kompas, 16 Maret 2015). Gerakan ini mendapat dukungan dari kementerian pendidikan dan lembaga negara lainnya.

Berkaca pada rangkaian berita yang muncul hari ini, saya kira pernyataan itu salah alamat. Saya justru khawatir dengan erosi yang menggerogoti tubuh negara sebagai pemegang mandat menjalankan prinsip-prinsip Pancasila.  Gerakan Cinta Pancasila akan lebih elok bila ditujukan secara intensif kepada pemangku kekuasaan negara. Sumber erosi terjadi di sana.

Saya malah memiliki keyakinan pribadi, mayoritas generasi muda sekarang jauh lebih memiliki nilai-nilai yang dapat dipuji dan sesuai dengan tuntutan zaman hidup mereka masa kini dan yang akan datang. Seperti yang ditunjukkan dalam perjalanan sejarah peradaban manusia ribuan tahun lamanya, generasi yang baru selalu akan mengembangkan sistem nilai yang jauh lebih unggul dibanding generasi di belakang mereka.

***

Tidak terhindarkan, ada sebuah kebiasaan lama yang mungkin “tidak sadar” seringkali muncul dalam upaya ‘mewariskan nilai-nilai’ bagi generasi yang akan datang Indonesia, terlebih mewariskan nilai-nilai adiluhung yang terkandung dalam riwayat sejarah Republik Indonesia. Termasuk dalam upaya mewariskan nilai-nilai Pancasila.

Melalui Gerakan Cinta Pancasila itu, saya menyaksikan sebuah etos lama yang mewarnai cara kerja dalam menumbuhkan kesadaran sejarah. Yang harus kita sadari dan camkan berulang-ulang, Pancasila adalah nilai-nilai atau kode moral “yang berlaku untuk negara”, sehingga ia pun disebut sebagai dasar negara atau grondslag. 

Mengenalkan anak-anak kita terhadap prinsip-prinsip bernegara sudah pasti penting dilakukan. Nilai-nilai Pancasila adalah instrumen penting pengenalan dasar-dasar kewarganegaraan (civic). Di bangku sekolah, sejak jenjang terendah sampai paling tinggi sekalipun, prinsip ini harus dikenalkan. Setiap warga negara Indonesia harus mengetahui bahwa ada sebuah prinsip yang berlaku bagi negara Republik ini. Prinsip itu pun tidak dapat diganggu gugat, dan mengubahnya berarti juga membubarkan negara republik ini. Namun, yang perlu ditegaskan dan terkadang lupa dilakukan, mereka harus diajarkan bahwa prinsip itu berlaku dalam negara Republik ini dan harus menjadi mandat mutlak andaikata suatu hari nanti mereka menjadi pemegang kekuasaan negara.

Ringkasnya, mengajarkan suatu nilai yang ingin diwariskan kepada  generasi yang akan datang memerlukan sikap sadar diri dan refleksi yang mendalam. Jiwa zaman generasi sekarang menuntut bukti terlebih dahulu, bukan sekedar janji dan kalimat indah yang mengalir bebas dari bibir kita semua. Tidak sulit bagi mereka untuk bertanya, sejauh mana sekarang negara (dan aparat yang bekerja di dalamnya) benar-benar menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam praktek bernegara kita sekarang?

***

Hari-hari belakangan ini kita membutuhkan sistem kekuasaan dan penguasa yang memiliki telinga lebih banyak untuk mendengar, dan  dengan rendah hati belajar dari kehidupan orang banyak.

Ketika Sukarno menyampaikan pidatonya tentang Pancasila dalam rapat BPUPKI, dengan rendah hati ia mengatakan bahwa prinsip-prinsip kehidupan bernegara itu “diambilnya dari kebiasaan hidup dan tradisi beragam suku-bangsa yang mendiami Nusantara.”  Jadi, prinsip-prinsip itu sudah berlaku jauh sebelum Pancasila dirumuskan dan Republik Indonesia dibentuk. Ia sudah hidup sejak lama dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Untuk lebih meyakinkan, silahkan simak pembukaan dan penjelasaan pembukaan UUD 1945, termasuk juga dalam risalah rapat BPUPKI ketika konsepsi Pancasila dirumuskan.

Sukarno, penggali dan perumus Pancasila, jelas lebih sadar diri dan rendah hati berkait dengan pewarisan nilai-nilai Pancasila. Ia mengabadikannya dan mengusulkannya sebagai sebuah landasan negara. Sukarno pun mengakui belajar banyak dari berbagai sendir dan nilai kehidupan yang berlaku masyarakat Indonesia.  Masuk akal bila Sukarno dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa Pancasila bisa berlaku bagi siapapun warga-dunia. Memang semua prinsip yang berlaku merupakan intisari dari bayangan ideal kehidupan sehari-hari semua manusia di dunia.

Tiba-tiba saja sekarang ini kita mendapatkan gambaran sebaliknya.

Negara (dan aparat negara di dalamnya) merasa perlu mengajarkan nilai-nilai yang berlaku bagi dirinya kepada warga negara. Mereka lupa, bahwa tanpa perlu diwajibkan sekalipun (seperti pengalaman traumatis pendidikan P-4 era Orde Baru), setiap keluarga Indonesia (dan siapapun warga dunia) meyakini bahwa toleransi, kerukunan, gotong-royong, sikap demokratis dan cita-cita keadilan sosial adalah nilai penting bagi perkembangan kepribadian seseorang dari sejak buaian sampai kembali diantarkan menuju liang lahat. Pokok terpenting kemudian adalah sejauh mana negara mendukung dan menjamin nilai-nilai utama tersebut, dan prinsip itu menjadi kaidah yang berlaku bagi negara dan aparat yang menjalankan kekuasaan negara. Begitulah mengapa para founding-fathers kita bersusah payah merumuskan sebuah grondslag  untuk negara baru yang mereka bentuk.

Sebagai kata akhir, saya ingin mengutip sebuah kisah dari cerita kanak-kanak tentang Kaisar telanjang. Karena sikap kuasa dan kesombongannya, sang Kaisar meyakini dirinya memakai baju terindah yang pernah ada di negerinya. Namun, rakyat di jalanan melihat sang Kaisar berjalan tanpa busana yang melekat di tubuhnya. Kita berharap kisah seperti itu tidak terjadi lagi di negeri ini.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s