Dunia di atas kertas

Potret diri Frida Holleman (sumber: fridaholleman.blogspot.com

Bayangkan bila suatu saat Anda berada di tempat dan waktu yang salah. Pertanyaannya adalah dengan cara apa Anda merekam dan mengingat pengalaman yang seringkali bersifat traumatis bagi diri pribadi?

Menulis buku harian barangkali adalah cara yang paling populer. Anda mungkin bisa membandingkan dengan pengalaman gadis belia Anne Frank yang menulis pengalamannya, ketika tentara Jerman menduduki Belanda sepanjang Perang Dunia II. Catatan harian Anne Frank sekarang ini telah menjadi satu kisah yang mendunia.

Begitu juga dengan pengalaman seorang  perempuan lulusan sekolah seni Belanda, Frida Holleman (1908-1999). Pada 1939, ia berkunjung ke Hindia-Belanda. Ini adalah perjalanan pribadi bertemukeluarga. Di Hindia Belanda, ia bertemu sepasang suami-istri pelukis, Wim dan Maria Hofker, yang sebelumnya pernah tinggal di Bali. Frida belajar melukis dari pasangan itu. Namun, tidak lama kemudian, Jepang menduduki Hindia Belanda pada Maret 1942. Orang-orang Belanda dan Eropa di Hindia Belanda menjadi tahanan perang Jepang, termasuk juga Frida.

Sepanjang periode perang itu, ia menjadi penghuni kamp penjara perempuan di Kedung Badak, Bogor. Ia dibebaskan segera setelah kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik dan kedatangan tentara Sekutu. Frida pulang kembali ke Belanda sampai akhir hayatnya pada 1999. Ia membawa serta kumpulan sketsa lukisan cat air dan pensil di atas kertas yang dibuatnya sepanjang menjadi tawanan perang Jepang, yang kini menjadi koleksi Museun dan NIOD Instituut voor Oorlogs, Holocaust en Genocidestudies di Belanda.

Sayang, kita hanya mendapatkan sedikit  informasi tentang sosok pribadi Frida. Namun, sketsa yang dibuatnya tetap merupakan sumber berharga yang memberi  kesan menarik tentang soal-soal apa saja dalam kehidupan kamp yang menjadi perhatian mata pelukis. Sketsa ini  juga menjadi sumber informasi menarik bagi sejarawan modern Indonesia tentang periode Perang Dunia II.

Di Balik Pagar. Lukisan cat air dan sketsa pensil di atas kertas 9 x 12,3cm.
Di Balik Pagar. Lukisan cat air dan sketsa pensil di atas kertas 9 x 12,3cm.
Suasana Kamp. Lukisan cat air di atas kertas 23.7 x 34.5 cm.
Suasana Kamp. Lukisan cat air di atas kertas 23.7 x 34.5 cm.
Bersantai di Kebun. Lukisan cat air di atas kertas8,8 x 8 cm. Lukisan cat air ini menggambarkan enam orang suster seminari yang berkeliling sore di bawah pohon rindang. Pagar berwarna coklat menjadi batas antara  kamp dan dunia luar.
Bersantai di Kebun. Lukisan cat air di atas kertas8,8 x 8 cm. Lukisan cat air ini menggambarkan enam orang suster seminari yang berkeliling sore di bawah pohon rindang. Pagar berwarna coklat menjadi batas antara kamp dan dunia luar.
Kepala Kamp Mengawasi Biarawati
Kepala Kamp Mengawasi Biarawati
Satu keluarga makan bersama. Lukisan cat air di atas kertas. 21 x 16 cm
Satu keluarga makan bersama. Lukisan cat air di atas kertas. 21 x 16 cm
Mengeringkan diri dan berpakaian.  Lukisan cat air di atas kertas. 7,5 x 11cm
Mengeringkan diri dan berpakaian. Lukisan cat air di atas kertas. 7,5 x 11cm

(Sumber gambar:  http://www.geheugenvannederland.nl)

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s