“French-connections” dalam sejarah Indonesia

Sepanjang sejarahnya yang panjang, tidak dapat dipungkiri bahwa proses ‘silang-budaya’ adalah kekuatan penting yang bergerak di balik pembentukan sejarah Indonesia modern.

Dari beragam persilangan itu–yang mencakup era panjang sejak kemunculan kerajaan Hindu-Budha sampai kolonialisme modern Eropa–ada kesan menarik tentang apa yang akan saya sebut secara sederhana sebagai French-connection dalam sejarah Indonesia. Dua hal ringkas berikut menyodorkan  bagaimana penampilannya  dalam panggung sejarah Indonesia.

Pertama adalah negara modern. Benihnya berkembang sejak Marshall Herman Wilhelm Daendels (1762-1818), seorang pendukung revolusi Prancis yang bersemangat, menjadi Gubernur Jenderal mewakili pemerintahan Belanda yang dikuasai Prancis saat itu.

Daendels membangun sebuah birokrasi modern yang membagi pulau Jawa seperti model perfecture Prancis di bawah Napoleon dengan membaginya menjadi beberapa keresidenan. Dengan cara ini sesungguhnya ia sedang memotong kaki kekuasaan  bangsawan Jawa tradisional (secara terang-terangan Daendels memiliki pandangan antifeodal) dengan menjadikan bupati sebagai bawahan langsung pemerintah kolonial, dibanding kesetiaan pada raja. Alhasil Daendels pun menuai rasa permusuhan dari para pangeran dan raja-raja yang merasakan kekuasaan tradisional mereka semakin menciut melalui kebijakannya.

Namun, sampai akhir kekuasaan kolonialisme Belanda, struktur negara Napoloenik itu tetap bertahan di Indonesia, bahkan sampai periode Republik Indonesia dengan beberapa modifikasinya. Ringkasnya, kita mendapatkan sebuah konstruksi kekuasaan teritorial mengikuti model kontinental Eropa di negeri kepulauan seperti Indonesia.

Itu adalah bentuk French-connection pertama.

Gambaran kedua dapat kita temukan dalam rumusan tentang nasionalisme Indonesia. Melalui juru bicara utamanya, Sukarno (1901=1970), kita mendapatkan bagaimana French-connection itu mengisi watak perkembangan politik di Hindia-Belanda pada paruh kedua dan ketiga abad ke-20. Sukarno terhadap ide sejarawan Prancis, Ernest Renan (1823-1892), dalam kuliahnya yang terkenal di Universitas Sorbone pada 11 Maret 1882, berjudul Qu’est-ce qu’une nation atau Apa itu Bangsa?

Pemikiran Renan menjadi gagasan yang mengisi perdebatan Jerman-Prancis tentang konsep bangsa. Lebih spesifik lagi, ia merupakan antitesa terhadap rumusan Jerman, yang diwakili Johann Gottlieb Fichte (1762-1814) dalam pidatonya tentang ‘karakter’ Bangsa Jerman saat berada di bawah pendudukan tentara Prancis. Ringkasnya, konsepsi Fichte menekankan tentang aspek bahasa dan pertalian darah yang menjadi komponen utama pembentukan bangsa.

Sebagai seorang pemikir republikan dengan kecenderungan liberal, Renan menawarkan  rasionalisme individual yang bersifat voluntaristik tentang ‘pembentukan kesepakatan bersama’ menjadi bangsa. Ia menekankan ‘pengalaman dan kenangan bersama’ dari suatu komunitas politik sebagai kekuatan penting dalam pembentukan sebuah bangsa.

Tesis ini sekaligus penolakan terhadap ide nasionalisme Jerman yang membawa serta panji-panji militerisme dan rasialisme saat itu. Renan juga menekankan bahwa konsepsi kewarganegaraan suatu negara bangsa harus dibentuk atas prinsip tanah kelahiran (ius soli) dibanding ikatan darah atau rasial (ius sanguinis) seperti diterapkan kerajaan Prusia saat itu. Pada periode Perang Dunia II, kita mendapatkan bagaimana dampak doktrin pertalian darah itu melalui agenda pemusnahan kaum Yahudi di Eropa.

Sepertinya kita  patut bersyukur bahwa Sukarno lebih memilih jalur French-connection dalam eksplorasi pemikirannya tentang nasionalisme Indonesia dibanding pemikir Jerman. Bagi Sukarno, seperti dituangkan dalam Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (Sukarno, 1926),  nasionalisme Indonesia berkembang dari suatu perjuangan yang dimulai sejak kemunculan Budi Utomo sampai Partai Komunis Indonesia dalam pergulatan ‘tekad menjadi satu’ melawan kolonialisme Belanda pada awal abad ke-20.

Dengan terang-terangan, Sukarno pun menyebutkan inspirasi pemikirannya yang bersumber dari Renan. Berdasarkan konsepsi Renan tentang bangsa, Sukarno meyakini bahwa nasionalisme Indonesia bersemai dalam ‘riwayat bersama’ melawan kolonialisme Belanda sejak peralihan abad ke-20. Saya akan menerangkan bagaimana nasib ‘riwayat bersama’ itu dalam tulisan lainnya. Sekarang ini saya sekedar menekankan bagaimana French-connection itu mengisi panggung sejarah Indonesia.

Bagaimana sekarang?

French-connection memang sekedar teropong imajiner terhadap sejarah Indonesia. Namun, saya memiliki kesan bahwa kita tengah menghadapi sebuah putaran balik French-connection dalam ide dan keramaian panggung politik Indonesia kontemporer.

Alih-alih menguatnya visi republikanisme, panji-panji Prusia semakin tinggi berkibar. Memang ia belum mewujud menjadi sebuah cita-cita membangun lebensraum baru. Selain itu, masih ada kesempatan bagi kita untuk memperhatikan   bagaimana pertarungan ide satu abad lampau yang berjarak ribuan kilometer jauhnya mendapat tempat dalam kehidupan politik kontemporer Indonesia.

Siapakah pemenang dari pertarungan ini?

Masih ada waktu bagi kita semua untuk mempengaruhi bergeraknya jarum jam sejarah.

Tabik

Andi Achdian

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s