Tumbuh besar dalam ‘peradaban kota’

sumber: @pulangkonvoi

Adalah di luar kelaziman bila seorang sejarawan membuat ulasan tentang suatu era sejarah yang belum mewujud. Namun, godaan di luar kelaziman itu memang tak tertahankan.

Ketika #pulangkonvoi bergulir menjadi trending-topic di media sosial Indonesia, saya mendapat kesan awal tentang “Indonesia yang semakin menjadi kota”.

Pagi ini saya mendapat konfirmasinya ketika membaca headline harian Kompas: satu dekade ke depan 57 persen penduduk Indonesia akan menjadi penduduk kota! Begitulah.

***

#Pulangkonvoi mendapatkan popularitasnya sebagai wakil kecemasan para pekerja kota terhadap meningkatnya (pemberitaan) kejahatan jalanan. Ia berjalan seiring dengan keluh-kesah penduduk kota lainnya tentang kemacetan, banjir, transportasi publik yang amburadul, naik-turunnya harga bahan bakar, perseteruan politisi di layar kaca, kekecewaan terhadap janji pemimpin, gelombang seruan antikorupsi di media sosial sampai melejitnya nilai tukar dollar.

Semua adalah isu hari ini.

Dalam kaitan ini ia berdiri sejajar dengan keprihatinan orang-orang kota terhadap persoalan hidup mereka sehari-hari. Termasuk di dalamnya agenda-agenda kampanye ketika sebagian orang turun ke jalan menyuarakan protes antikorupsi, atau menyerukan dukungan pada tokoh idola mereka yang menjadi pahlawan hari ini.

Saya ingin membuat sedikit catatan tentang gambaran menarik dari kemunculan #pulangkonvoi (dan agenda-agenda kampanye yang marak di lingkungan perkotaan.

Ia menjadi petunjuk tentang bagaimana orang-orang kota di jalanan, yang tanpa ikatan kekerabatan atau pertemanan sebelumnya, mengorganisir diri menciptakan rasa aman yang mandiri. Mereka tidak perlu bertanya latar belakang ras, agama, etnis, dan segala batasan-batasan individual untuk menyusun janji pulang bersama. Kewaspadaan hanya tertuju pada apakah seseorang adalah seorang pelaku kriminal atau bukan.

‘Moralitas baru’ seperti ini sepertinya mewakili sensibilitas orang-orang Indonesia memasuki era ‘peradaban kota’ yang menjadi ciri abad ke-21 menggantikan negara-bangsa yang menjadi riwayat sejarah manusia abad ke-20.

***

Tanpa perlu menunggu satu dekade yang akan datang, karakter ‘peradaban kota’ sudah datang menghampiri. Bagaimanapun saya belum dapat menarik kesimpulan menyeluruh tentang watak gerakan sosial seperti ini.

Barangkali saja kepentingan yang sama menjadi moral utama yang mengikat lahirnya gerakan itu. Dari sudut ini, ia bukan sesuatu yang baru. Moralitas itu telah muncul dalam peradaban kota yang berkembang seiring dengan revolusi industri di Eropa. Proletariat industri itu disatukan oleh kepentingan yang sama tentang upah dan jam kerja mereka.

Organisasi serikat buruh dengan latar ideologi Marxisme, Anarkisme dan Sindikalisme mewakili bentuk gerakan yang lahir. Namun, riwayat sejarah mereka berada dalam era negara-bangsa.

Dibanding gerak modal yang tidak mengenal batas negara dan bangsa, beragam ikatan yang menggantikan loyalitas kekerabatan dan lingkungan perdesaan muncul dalam wujud rasisme, nasionalisme, dan juga komunalisme adalah bagian tak terhindarkan dalam dinamika gerakan serikat buruh. Revolusi yang diharapkan pun jalan di tempat.

Kemenangan kapital dalam skala global tidak dapat disangkal menjadi motor penggerak ‘peradaban kota’. Cita rasa dan kebiasaan sehari-hari penduduk dunia abad ke-21 kian serupa. Penduduk Jakarta, Surabaya dan kota besar lainnya di Indonesia mengunyah makanan yang sama dengan mereka yang tinggal di Tokyo, Madrid, London, dan New York.

Standar hidup dan selera pun tidak jauh berbeda. Pendukung fanatik satu klub di liga sepakbola Eropa di Jakarta, Manila, dan Islamabad terpuruk dalam kesedihan yang sama ketika kesebelasan kesayangannya menerima kekalahan menyakitkan dari klub saingan.

***

Akhir kata, saya ingin memberi sedikit catatan tentang moralitas baru ‘peradaban kota’ di Indonesia pada awal abad ke-21 ini.

Titik tolaknya berpijak dari riwayat pertumbuhan awal masyarakat perkotaan di Hindia-Belanda (Indonesia pada saat itu). Langkah kemajuannya berjalan seiring dengan ketimpangan kolonial yang bersifat rasial.

Dalam lingkungan ini cita-cita nasionalisme Indonesia mendapat tempat  subur. Juru bicara utamanya adalah anak-anak sekolahan yang memadukan imajinasi Bharata Yudha dengan epik revolusi Prancis dan Amerika yang terjadi di belahan bumi yang lain.

Sudah pasti pada abad ke-21 ini kita tidak akan mendapatkan bentuk yang sama, dan lebih baik jangan mengharapkan dinosaurus yang terpajang di ruang museum hadir di taman-taman kota masa kini.

Kita hanya bisa berharap bahwa apapun bentuk yang lahir kemudian, ia mewakili penyempurnaan cita-cita ribuan tahun perjalanan sejarah manusia menuju kesetaraan dan kemakmuran hidup bersama.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s