La propriete, c’est la vol

Apabila akhir pekan ini Anda ingin mencari sebuah buku yang memberi kesenangan pribadi, dengan humor menggelitik tentang ragam pengalaman manusia,  Gabriela, Cengkih dan Kayu Manis karya sastrawan Brasil, Jorge Amado, adalah pilihan yang tepat. Saya merasakan hal itu ketika membaca buku ini.

***

Ada beragam kisah percintaan aneh  dengan akhir tragedi dan juga komedi. Ada juga keputusan-keputusan serampangan dan terkadang berbaur kebimbangan yang menjadi pilihan seseorang tentang hidup mereka.

Kisah dalam buku ini bertumpu pada sosok Najib, seorang keturunan Suriah pemilik  restoran di Ilheus, sebuah kota kecil di Brasil sebagai panggung hamparan setiap tindakan manusia yang diwakili masing-masing karakter tokoh utama dalam buku ini. Di restoran milik Najib itu kita mendapatkan saling kaitan sepak terjang mereka. Amado mengemasnya menjadi alur cerita memikat, lucu dan merangsang imajinasi intelektual.

Kemudian ada perempuan udik bernama Gabriela, sebagai tokoh sentral yang bukan saja cantik, tetapi juga mampu menyihir lidah pelanggan restoran Najib dengan cita rasa menakjubkan dari masakan yang dibuatnya. Najib pun jatuh cinta dengan hasrat bergelora. Namun, buku ini bukan sekedar sebuah karya yang menanak kisah cinta manusia dengan beragam ramuan yang menawan.

***

Sesuatu yang luar biasa dari Jorge Amado adalah keberhasilannya menampilkan kehidupan sebuah kota yang tampil bukan sekedar memenuhi kebutuhan pengarang tentang latar ruang untuk membangun alur ceritanya.

Ilheus pada 1925, demikian periode waktu yang membentuk kisah ini, adalah ajang yang kaya membangun kisah manusia di sebuah wilayah udik penghasil komoditi ekspor coklat  yang berkembang menjadi masyarakat kota.

Dari situ kita mendapatkan gambaran lucu tentang pandangan dan sepak terjang para pemilik perkebunan dengan panggilan kolonel (bukan pangkat sesungguhnya) sebagai  penguasa kota sesungguhnya. Pada masa lalu, mereka adalah bandit dengan kelebihan nyali membunuh demi sekeping tanah, termasuk menjarah tanah milik orang lain.

Seiring perkembangan waktu, mereka lalu menjadi tuan-tuan terhormat berpikir tentang politik, peradaban kota dan kemajuan masyarakat.  Sayup-sayup saya mendengar slogan lama Pierre-Joseph Proudhon, seorang anarkis Prancis abad ke-19, La propriete, c’est la vol! terkait dengan sosok mereka.

***

Saya menyampaikan apresiasi besar terhadap inisiatif  penerbit Serambi menerjemahkan dan menerbitkan karya Jorge Amado yang menarik ini (dan berharap karya-karya selanjutnya).

Sebagai seorang dengan latar belakang sejarah, buku ini membantu saya  memandang kehidupan manusia yang  penuh warna dalam lingkungan perkotaan dunia ketiga, dan Indonesia tentunya.

Tabik.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s