Akrobat Politik Anak Mami

Anak mami adalah istilah yang mengundang lampu peringatan bagi setiap gadis muda yang sedang memilih pria pasangan hidup mereka. Fenomena universal ini mengajarkan agar mereka berhati-hati memilih pasangan hidupnya agar tidak berakhir dengan kemalangan yang tidak perlu.

Lampu peringatan itu sesungguhnya berlaku pula dalam dunia politik Indonesia kontemporer.

Apabila kita menajamkan lensa pandangan terhadap akrobat politik parlemen satu minggu terakhir, sesungguhnya kita sedang menyaksikan perilaku anak mami dalam politik Indonesia.

Anak mami di parlemen Indonesia tidak surut langkah meski berhadapan dengan kemarahan publik terhadap inisiatif menggulirkan pilkada tidak langsung yang mengecewakan publik. Insiden walked-out fraksi Partai Demokrat menambah bumbu penyedap kegaduhan anak mami dalam panggung politik Indonesia.

Begitulah. Karakter anak mami dalam politik sama bersifat destruktifnya dengan kemalangan seorang perempuan yang salah memilih pasangan hidupnya.

Samuel Leff, antropolog yang pernah menjadi aktivis pada dekade 1960an, mengungkapkan pentunjuk umum tabiat anak mami dalam politik Amerika Serikat.

Menurutnya, mereka terbiasa mengekspresikan gaya supermacho dalam segitiga persaingan Oedipal super-kompetitif antara ibu, anak lelaki dan ayahnya. Sebagai ‘anak mami’, secara intuitif mereka keras kepala, sombong, dan senang bertarung tanpa kompromi walau mengakibatkan kerugian besar bagi orang banyak.

Mereka berjuang keras menaiki tangga politik, dan saat sampai di kursi kekuasaan, mereka akan menjadi sosok sado masokis ekstrim, yang senang dengan penderitaan orang-orang yang dianggap lawan politik mereka (termasuk publik yang tidak setuju terhadap kebijakan pilkada tidak langsung) hanya untuk kesenangan pribadi atau kelompok mereka.

Bagaimana kemudian kaitannya dengan akrobat politik di parlemen kita belum lama ini?

Diktum Freud tidak dapat disangkal sedang berlaku dalam kegaduhan politik di Indonesia. Tradisi budaya nusantara memang memiliki banyak contoh pertarungan Oedipal dalam beragam legenda tradisional. Kisah Lutung Kasarung di Jawa Barat, yang berakhir dengan kisah sang anak yang membunuh bapaknya, adalah contoh par excellence tabiat Oedipal dalam budaya Indonesia.

Tabiat itu sesungguhnya tetap lekat dalam politik Indonesia masa kini. Harapan publik sebagai ayah kandung yang menempatkan politisi anak mami dalam kursi kekuasaan, telah mati dibunuh dalam akrobat politik politisi di parlemen.

Dalam menghadapi tabiat anak mami yang mengobrak-abrik panggung politik Indonesia, ada pelajaran berharga dalam budaya universal yang biasa dilakukan anak gadis yang melangkah menuju dunia dewasa: berhati-hatilah memilih pemimpin!

(Pernah terbit di NefosNews, September 2014. Karena media bersangkutan sekarang sudah almarhum, saya tampilkan kembali di sini. Sumber gambar http://www.cumaberita.com/berita/2790/)

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s