SAIR GOEA MINTA: Catatan tentang Politik Kota dan Pergerakan Nasional Indonesia

Soerabaja-15

SAIR GOEMINTA

Obat njamoek moelai ngarang
Otak penoeh dengan tjita-tjita
Boeka koeping biarlah terang
Obat njamoek hendak tjerita

Banjak orang soedah kata
Di mana-mana djadi tjerita
Politiek tentang goeminta
Jang selaloe main minta-minta

Sekarang kita boeka mata
Berani melihat berani berkata
Nasib boesoeok soedahlah njata,
Terderita segala pendoedoek kota

Belasting goeminta amat berat
Kita ichtiar mentjari obat
Semoea bangsa mesti rapat
Soepaja kita bisa koeat

Orang kampoeng sangat melaratnja
Siang malam sangat soesahnja
Goeminta tak memikirkannja
Gadjih ketjil selama-lamanja.

Pengidoepannja montang-mating
Pakai pakean rontang-ranting
Badan koeroes koelitnja kering
Sedang goeminta tak ambil poesing

Kaoem modal poenja boeatan
Perboeatannja sematjam sjetan
Sampai orang di bawah djembatan
Kalau mati djadi rawatan

 

Obat Njamoek.

 

Catatan

Tulisan ini terbit dalam surat kabar Proletar di Surabaya pada 1925. Surat kabar ini diawaki Moeso dan Soedibyo dan beralamat di Plampitan, Gang 3, Surabaya. Dengan klaim sebanyak 1.400 pelanggan dan biaya berlangganan 1,25 gulden setiap bulannya, surat kabar ini menjadi corong bagi aktivis komunis di Surabaya saat itu menyuarakan pandangannya.

Penggalan kutipan di atas mengingatkan kita pada tulisan Mas Marco Kartodikromo yang pernah terbit sebelumnya dengan gaya bahasa yang sama. Tema yang diangkat dalam tulisan ini memberi suatu petunjuk penting tentang fenomena menarik sepanjang riwayat pergerakan pada awal abad ke-20, tetapi masih terabaikan dalam kepustakaan studi sejarah periode tersebut: fenomena politik kota yang menjadi bagian penting aktivisme politik saat itu.

Penggunaan istilah goeminta sebagai plesetan dari kata Gemeente mewakili konsepsi politik aktivis pergerakan tentang lembaga pemerintahan kota di Surabaya saat itu yang dianggap lebih perduli untuk terus memungut pajak dari penduduknya, dan pada saat sama mengabaikan hak-hak penduduk pribumi sebagai warga kota.

Konsepsi ini sekaligus menjadi catatan terhadap pandangan William H. Frederick yang menyatakan bahwa istilah itu memiliki arti “”lubang tanpa dasar”, yang mengandung rasa jijik yang sangat”. Frederick memberikan pandangan itu berdasarkan wawancaranya dengan penduduk kampung di kota Surabaya pada 1972 saat melakukan penelitian tentang perkembangan masyarakat kota Surabaya dan kaitannya dengan revolusi Indonesia. Namun, ketiadaan referensi terhadap surat kabar itu menyebabkan Frederick luput menempatkan pengertian istilah itu sesuai dengan konteks politik “zaman bergerak”saat  itu.

 

 

Tabik,

Andi Achdian

 

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s