David Reeve: Pengantar

sumber: wacana.usc.edu.au/isn/reeve.jpg

Saya menyambut gembira terbitnya karya Andi Achdian yang menyajikan pemikiran dan kenangan pribadi tentang sejarawan terkemuka Ong Hok Ham. Sebuah karya yang lahir  dari jalinan persahabatan  selama tujuh tahun terakhir dalam kehidupan Ong.

Seperti mengenang kembali masa ketika mulai melakukan wawancara untuk penyusunan proyek  biografi Ong Hok Ham pada tahun 2002, saya sering melihat  Andi berkunjung ke kediaman Ong. Mereka berdiskusi tentang peristiwa-peristiwa lampau dan masa kini, berbicara tentang Indonesia dan persoalan mancanegara. Dan sudah barang tentu soal sejarah. Ong menyukai Andi sebagai seorang mahasiswa cemerlang dari jurusan sejarah FSUI. Dengan segala kecerewetan dan omelan, ia menikmati caranya menempa Andi membangun karir masa depan.

Dalam kesempatan ini saya ingin menuangkan rasa gembira yang lain. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah karya yang ditulis Ong atau tulisan tentang dirinya, terus bertambah. Sebelum serangan stroke pada tahun 2001, meski Ong telah menulis banyak artikel di Kompas, Tempo dan Prisma sebelumnya, hanya ada dua buku yang diterbitkan:

 

Rakyat dan Negara, Sinar Harapan, 1983

Runtuhnya Hindia Belanda, PT Gramedia, 1989

Buku pertama adalah kumpulan tulisan Ong dalam jurnal Prisma. Dan buku kedua adalah skripsi sarjana di jurusan sejarah UI pada tahun 1968. Ini adalah sebuah karya skripsi yang mendalam dan menarik ibarat membaca sebuah novel.

Memasuki tahun 2001, muncul perhatian besar untuk menerbitkan kumpulan tulisan Ong yang pernah terbit di berbagai media. Tidak dapat disangkal, setelah serangan stroke yang menimpa dirinya, berkembang kesadaran bahwa Ong tengah berada dalam tahap akhir kehidupannya. Mungkin sudah tidak lama lagi.  Sejak saat itu mengalir perhatian yang besar terhadap apa yang telah dilakukan, dan apa yang dipikirkan Ong mengenai sejarah Indonesia. Tonggak besar perhatian dikukuhkan dalam perayaan ulang tahun ke-70 Ong pada 1 Mei 2003.

Apabila sebelum 2001 hanya ada dua karya Ong yang terbit, delapan tahun kemudian kita menyaksikan lebih banyak lagi penerbitan karya-karya Ong dan tentang Ong. Ada empat sebelum kematiannya dan empat lagi sesudahnya. Masing-masing adalah:

 

Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara, Penerbit Buku Kompas, 2002.

Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang, Tempo 2003.

The Thugs, Curtain Thief, and the Sugar Lord, Metafor, 2003.

Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa, Komunitas Bambu 2005.

Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan, Komunitas Bambu, 2007.

Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina, Komunitas Bambu, 2008.

SUKARNO: Orang Kiri Revolusi & G30S 1965, Komunitas Bambu, 2009.

Raden Saleh: anak Belanda, moii Indie & nasionalisme; Harsja W. Bachtiar, Peter B.R. Carey, Onghokham; Komunitas Bambu 2009.

***

Jadi ini adalah terbitan kesebelas mengenai ‘buku Ong’ yang terbit pada tahun 2011. Saya berharap dalam waktu dekat penerbitan ini akan disusul oleh biografi Ong Hok Ham yang sedang saya susun dan dalam tahap draft kedua penulisan. Apa yang tampil dalam buku kesebelas ini adalah kumpulan kenangan dan pemikiran Andi mengenai Ong, dan juga pemikiran Ong sendiri. Semua  bersumber dari rangkaian percakapan panjang pagi dan sore hari yang mencakup beragam topik, mulai dari Revolusi Prancis sampai kejatuhan dinasti Manchu, kemaharajaan Turki dan pasukan janisarnya sampai novel-novel sejarah terkenal, badan intelejen sampai lukisan-lukisan favorit, dan juga tentang para penulis yang dikagumi Ong. Dan dalam tulisan ini, kita mendapatkan sebuah gambaran menarik dan pemikiran mendalam tentang sosok Ong dalam berbagai aspek: hedonis, pemikir, pemabuk, sahabat, tuan rumah, dosen killer, seorang terpelajar, penulis, pencinta masakan dan wakil kehidupan kosmopolitan. Semuanya diramu dengan ragam pemikiran Ong tentang sejarah Indonesia dan sejarah sebagai sebuah disiplin ilmu.

Andi menyusun bukunya menjadi sembilan bab, masing-masing berkelana dalam berbagai bidang, seperti juga pengembaraan percakapan-percakapan mereka. Bab pertama adalah yang paling saya suka. Ia menggambarkan bagaimana sebuah bentuk persahabatan dengan ragam gejolak emosi di dalamnya dengan beragam tema: revolusi Prancis sebagai sumber inspirasi, keputusan Ong untuk tetap menikmati minuman keras setelah serangan stroke,  tuyul dan kepercayaan rakyat tentang ilmu sihir di Amerika Latin, sosok sejarawan seperti Lefebvre, Soboul dan Tilly tentang Prancis, John K. Fairbank tentang China, dan khususnya Fernand Braudel. Juga pembahasan tentang karya sastra yang menjadi favorit  Ong, lukisan; masakan; kebencian terhadap otoritarianisme dan termasuk sosok anjing peliharaan Ong.

Perhatian Ong yang luas terhadap revolusi Prancis terlukis kental dalam tulisan ini. Kita mendapatkan antusiasme Ong terhadap lukisan klasik Eugene Delacroix tahun 1830 berjudul Liberty leading the People, sampai kekagumannya terhadap Richard Cobb, sejarawan Inggris yang ahli tentang Revolusi Prancis.

Pesona sejarah Prancis bagi Ong muncul pertama kali dalam periode Revolusi Indonesia. Saat itu ia membaca buku yang berkisah tentang Marie Antoinette milik ibunya sebagai hadiah dari saudara laki-lakinya (buku ini ditulis oleh Stefan Zweig: Marie Antoinette: Bildnis eines mittleren Charakters, 1932, yang kemudian dibuat menjadi film Hollywood dan dibintangi Norma Shearer).

Membaca tentang revolusi dalam periode revolusi berpengaruh besar terhadap diri Ong. Sepanjang karirnya, ia banyak mengambil perbandingan dari peristiwa itu. Ong terpesona oleh gagasan ideal revolusi Prancis—khususnya tentang egalite—dan dibanding inspirasi revolusioner, pengalaman Revolusi Prancis memberikan Indonesia  sebuah negara Napoleonic yang dibangun Deandels dalam periode pendek kekuasaan Prancis (1808-1811). Struktur negara ini yang kemudian membangun mesin birokrasi yang efisien dalam menghubungkan penguasa di pusat dan rakyat di perdesaan, sebuah keberhasilan yang gagal dilakukan dinasti-dinasti penguasa Jawa.

Ong juga banyak membuat perbandingan tentang beberapa peristiwa lain dalam sejarah Indonesia—the Great Fear dalam sejarah  Prancis yang menurutnya relevan dalam melihat suasana sebelum terjadinya pembantaian massal tahun 1965 dan sekaligus perasaan tercekam terhadap gelombang Teror Putih yang melanda Indonesia setelah bulan Oktober 1965. Dalam buku ini Andi menuturkan bagaimana mereka mencoba menggunakan buku Charles Tilly, The Vendee, untuk melihat fenomena Darul Islam. Gambaran menakutkan tentang kepala ratu Marie Antoinette yang menggelinding di lantai setelah dipenggal, membekas dalam pikiran Ong. Gambaran seperti ini yang kemudian muncul dalam perasaan Ong berkait dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1965. Rasa tercekam itu kemudian membawanya dalam kebingungan dan tekanan mental yang cukup panjang, sampai ia dipenjara selama enam bulan pada tahun 1966. French-connection adalah tema yang sering muncul dalam buku ini.

***

 Andi Achdian menekankan sikap tidak peduli—dan cenderung mengabaikan—dari Ong terhadap metode dan teori, khususnya dalam tahun-tahun terakhir hidupnya. Cukup aneh. Beberapa mahasiswa seringkali menganggap Ong adalah seorang Marxis. Anggapan ini muncul karena Ong sering menggunakan faktor-faktor ekonomi dalam penjelasannya tentang peristiwa-peristiwa sejarah. Dan menurut saya sikap itu muncul karena Ong dapat menjelaskan teori tersebut dengan baik. Tetapi mereka dibuat terkejut ketika berkunjung ke tempat Ong. Di sana mereka menyaksikan sebuah tempat tinggal dan gaya hidup pemiliknya yang sama sekali tidak mencerminkan sebuah ideal tentang seorang Marxis. Ong sendiri memang tidak pernah menyatakan dirinya Marxis. Ketika semakin tua, Ong malah semakin mengabaikan teori. Ia memandang kehidupan dan pengalaman manusia terlalu kaya untuk dibatasi dalam satu kotak teoritis. Bukan berarti Ong anti-teori. Ia hanya tidak ingin terikat satu jenis pemikiran dan pandangan teoritis tertentu. Ong mengambil sebuah posisi setelah ia memahami dengan sungguh-sungguh sebuah teori, bukan sebaliknya.

Ong akan mengatakan: ‘Ambil satu contoh sosok individu penting yang sedang  dalam tekanan, dan kembangkan pemahaman terhadap faktor-faktor yang bekerja mempengaruhi orang tersebut.’ Disini terdapat bayang-bayang keberhasilan karya  terkenal, Brotodiningrat Affair, yang disebut Andi sebagai karya masterpiece Ong. Saya kira ini tidak salah. Seperti dikutip Andi, Ong mengatakan: ‘sejarah berbicara tentang orang, bukan struktur, sistem atau lembaga…dan juga bukan sekedar peristiwa.’ Ong menekankan dimensi story dari history dengan perhatian khusus pada daya literer sebuah karya sejarah. Ia mengaggumi John Huizinga dalam kaitan ini. Tema ini muncul dalam tulisan ‘Bukan Mediokrasi’ dan juga membayangi tulisan-tulisan lain di dalam buku ini.

Dalam satu tulisan Andi menunjukan, bahwa sebagai seorang sejarawan, Ong gagal menghasilkan karya utuh yang memberikan penegasan tentang pendekatan dan pemikirannya tentang sejarah. Disertasi doktoral yang ditulis di Yale pada tahun 1975 barangkali mempunyai peluang menjadi karya yang menempati posisi seperti itu. Sayangnya Ong tidak sempat menjadikannya sebagai buku dalam periode tinggal di Singapura selama setahun pada tahun 1979. Disana Ong berencana menulis disertasi menjadi buku. Sekali lagi sangat disayangkan bahwa hasil penelitian  dan penulisan yang utuh tidak sempat lahir dan dinikmati publik. Mengapa Ong gagal memanfaatkan waktu tinggal di Singapura menjadikan disertasinya sebagai sebuah buku?

Ong mengatakan bahwa ia merasa bosan tinggal di Singapura dan gampang tergoda makanan dan minuman di negeri itu. Tidak dapat disangkal biasanya Ong bekerja lebih produktif bila dikejar tengat waktu dan tuntutan menyelesaikan sebuah karya. Tetapi saya kira surat-surat yang ditulisnya dalam periode tersebut menunjukan dengan cukup jelas apa yang terjadi. Pada masa awal tinggal di Indonesia setelah belajar di Yale, sekitar tahun 1975 sampai 1977,  Ong merasakan kehidupan yang tidak terlalu menyenangkan. Memasuki tahun 1978, keadaan mulai berubah. Diluar dugaan Ong, rangkaian tulisan yang dimuat dalam media massa menjadikannya sebagai mini-selebriti di Indonesia. Bahkan bintang film pun mengenalnya. Mereka ingin bertemu dan berbicara dengan Ong.

Kita bisa bayangkan perubahan itu. Satu dekade sebelumnya, Ong tidak lebih dari seorang pariah. Ia baru keluar dari penjara dan tengah menjalani perawatan medis terhadap tekanan mental yang dideritanya. Tetapi pada tahun 1978, terjadi perubahan besar. Ong sedang jatuh cinta. Ia menemukan seorang kekasih di Indonesia. Jadinya tahun 1979 adalah tahun yang salah. Kehidupan baru yang nyata menghampiri dirinya. Saya kira ini penyebab Ong tidak menyelesaikan ‘karya besar’ yang seharusnya ditulis ketika masih memiliki kesempatan menuliskannya. Saya sendiri yakin bahwa ia tidak membutuhkan karir; justru karir yang menghampirinya pada tahun 1978. Tetapi tetap saja merupakan hal yang patut disayangkan bila setelah empat dekade, disertasinya tetap belum diterbitkan. Saya percaya bahwa beberapa gagasan Ong yang menarik akan mendapatkan pembaca baru yang semakin luas melalui buku itu.

***

Ong lahir pada tahun 1933. Masa-masa Ong belajar di sekolah dasar dan menengah banyak terganggu oleh peristiwa sejarah besar seperti pendudukan Jepang dan Revolusi Indonesia. Dalam kaitan ini ia baru mulai menempuh pendidikan Universitas pada usia 22 tahun. Pada saat itu, Ong menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Tetapi Ong tidak menyukai kuliahnya. 18 bulan kemudian Ong berhenti kuliah. Sepanjang periode itu, bagaimanapun Ong telah membangun jaringan pertemanan dan persahabatan yang luas. Salah satunya adalah Frits Tan, seniornya di Fakultas Ekonomi dengan ketertarikan pribadi pada sejarah. Melalui Frits, Ong membangun dua kontak penting yang membentuk pandangan-pandangannya tentang Peranakan Tionghoa di Indonesia dan dibahas dalam ‘Persoalan Tionghoa’ di buku ini.

Frits Tan mengenalkan Ong kepada Bill Skinner dari Cornell yang sedang mencari asisten peneliti proyek penulisan tentang Tionghoa di Indonesia. Dengan pendidikan Belanda dan kesukaan pada sejarah, Ong adalah asisten yang ideal untuk membantu membaca bahan-bahan dan arsip berbahasa Belanda. Sekitar tahun 1957-1958 Ong menjadi bagian dari tim kerja yang besar.

Frits juga mengenalkan Ong kepada P.K. Ojong, editor Star Weekly, yang melihat bakat besar dari seorang ilmuwan muda. Ia meminta Ong menulis tentang isu-isu Cina untuk edisi Imlek pada tahun 1958. Pekerjaan ini mendulang sukses. Ong banyak menulis artikel tentang tema ini sampai Star Weekly dilarang terbit pada tahun 1961. Cerita sejarah keluarga Ong, digabungkan dengan penelitian dan arahan-arahan yang didapat dari mentornya, membentuk gagasan-gagasan yang dituangkan dalam Star Weekly sejak 1958 sampai 1961. Andi menguraikan gagasan ini dalam bagian kedelapan tulisan buku ini.

Masih banyak lagi yang terkandung dalam buku ini. Dalam ‘Suatu Dunia Baru, Andi membuat uraian panjang lebar tentang surat Ong kepada Dan Lev, seorang peneliti Amerika Serikat dan sekaligus sahabatnya, yang ditulis pada tahun 1962. Dalam bagian ini Andi mengungkapkan kedalaman dan keluasan perhatian Ong di dalam suratnya. Dalam tulisan selanjutnya, ‘Dalam Dunia Modern’, Andi mengulas lelucon ‘khas sejarawan’ dari Ong tentang peran perempuan dalam penyebaran kolonialisme di Indonesia, pengaruh revolusi Prancis terhadap dunia modern, pembentukan masyarakat Indonesia, pengalaman Ong dalam periode perang dan Revolusi pada tahun 1940an, dan kekhawatiran terhadap Balkanisasi Indonesia. Dalam ‘Sylabus of Error’, Ong dan Andi membuat perbandingan terhadap fatwa gereja Katolik terhadap ‘naturalisme’ dan ‘rasionalisme’ yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX pada tahun 1864 dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2005 yang mengharamkan pluralisme, sekularisme dan liberalisme.

Studi tentang Ong nampaknya tidak akan lengkap tanpa menyinggung pula persoalan peristiwa 1965. Bagi Ong, peristiwa itu erat kaitannya dengan ketegangan mental dan penjara selama enam bulan. Andi Achdian menggunakan bahan penelitiannya sendiri dan membuat perbandingan dengan pengalaman sekitar kejatuhan Suharto pada tahun 1998, dan membayangkan bagaimana jadinya hal itu terhadap diri Ong.

Buku ini tipis saja. Tidak lebih dari 150 halaman. Tetapi banyak informasi yang dapat kita renungkan. Bagi saya ini merupakan sumbangan berharga terhadap kepustakaan yang terus meningkat tentang Ong, sebuah kepustakaan yang saya harapkan bahwa Ong—baik pemikiran dan kiprahnya—dapat terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi baru sejarawan Indonesia. Terima kasih Andi Achdian yang telah menuangkan segenap cinta dalam menghasilkan karya ini.

 

Yogyakarta, April 2011.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s