Pengantar Penulis – Angle of Vision

“Begitukah tafsiranmu tentang penciptaan?” Dalam bayangan saya, mungkin itulah pertanyaan yang terlontar dari bibir Paus Yulius II ketika Michelangelo menyelesaikan lukisan dari kisah kitab Kejadian di langit-langit kapel Sistine, Vatikan.

Yulius II (1443–1513) adalah paus yang terkenal atas kemahirannya di bidang militer dan kesukaannya terhadap seni. Machiavelli mengabadikan sosoknya dalam The Prince dan memberi gambaran karakter seseorang yang memiliki “tekad kuat” dalam meraih sukses. Tekad itu pula yang membawa Yulius berhasil menyatukan Italia dan mengukuhkan kedudukan gereja di antara para pangeran dan raja pada awal abad ke-16 di Eropa.

Sedangkan Michelangelo adalah seniman terkemuka sezaman Yulius II. Ia sempat menolak ketika Yulius II memintanya membuat lukisan yang mewakili semangat Kristiani tentang dunia dan manusia. Tetapi Yulius II berhasil meyakinkan seniman handal itu untuk melukis sebuah keindahan yang keduanya pun tak pernah bayangkan bagaimana bentuknya kemudian.

Michelangelo bukan seorang santo dan bukan juga sosok yang terkenal akan kesalehan pribadinya. Tetapi ia memberikan kita sebuah gambaran menggetarkan bagaimana kisah kejadian dan keterlemparan manusia dari hidup surgawinya. Ia melukis sosok Adam dan Hawa, dan sudah pasti itu bukan mahluk historis yang bisa kita temukan pembuktiannya. Tuhan, malaikat, iblis dan sosok manusia pertama, seluruhnya tampil kepada kita dalam bayangan manusiawi yang membangkitkan emosi tentang betapa nyata semua yang ideal itu. Seorang maestro tetap saja maestro.

 

***

 

Buku The Angle of Vision ini juga bermaksud memberi lukisan tentang bagaimana lintas sejarah Indonesia membentuk hidup masing-masing orang yang tampil di buku ini. Ia juga sebuah uraian yang memberi darah dan daging tentang suatu peristiwa yang pernah terjadi pada masa tertentu di Indonesia, dan bagaimana setiap orang-orang yang hidup di dalamnya memberi makna terhadap jalinan peristiwa yang mereka alami sebagai suatu sejarah.

Secara sederhana, Anda mungkin sudah mengenal bagaimana sejarah itu. Biasanya dimulai dari kisah para raja yang menandakan kepada kita sebuah cerita tentang tingkat peradaban yang pernah dicapai para pendahulu dalam suatu kurun masa tertentu. Mereka menciptakan lagu-lagu, perkakas, dan kuil suci dalam bentuk candi yang kemegahannya tetap menggetarkan hati orang-orang masa kini. Atau juga Anda bisa berangkat dari kisah sejarah yang dimulai ketika para pedagang –sekaligus serdadu—dari satu pojok benua Eropa datang dan kemudian berkembang membangun sistem kekuasaan yang terus bertahan sampai awal abad ke-20. Kemudian juga kisah-kisah heroik yang menandakan kelahiran sebuah republik yang kemudian menjadi sistem politik tempat kita hidup sekarang. Juga pengalaman penuh ketegangan ketika mahasiswa, buruh, dan aktivis pro-demokrasi bergerak menduduki gedung DPR dan melahirkan apa yang kemudian kita sebut sebagai periode reformasi.

Tetapi bukan sejarah itu yang hendak saya tampilkan.

Buku ini bergerak lebih dari sekadar menampilkan suatu sejarah yang berdiri sendiri di luar pengalaman manusiawi dan terbatukan dalam buku sejarah yang biasa kita pelajari. Saya tengah mengupayakan sebuah sajian tentang suatu bentuk kesadaran diri –kecemasan, harapan, dan tekad—yang lahir dari sejarah yang bergerak di dalam setiap individu dan bagaimana sejarah yang bergerak di luar mereka membentuk kehidupan masing-masing. Sesederhana itu, namun juga tidak sesederhana itu.

Yang jelas, saya tidak sedang menulis biografi (atau kumpulan biografi orang-orang yang beragam) dalam buku ini. Saya pun tidak sedang berupaya memperbaharui cara pendekatan biografi dalam sejarah. Pendekatan biografi memang telah menjadi cara bagi sejarawan untuk memberi warna terhadap cerita sejarah yang ditulisnya. Mulai dari cerita tentang kehebatan dan keberhasilan seorang tokoh dalam hidupnya, telaah kritis tentang peran seseorang dalam sebuah peristiwa sejarah, dan tidak ketinggalan pula kisah orang-orang biasa, telah menjadi suatu narasi baru dalam tafsir sejarah yang umum, seperti kisah revolusi dari sudut pandang para pengungsi yang bergerak menjauh dari setiap pertikaian yang lahir dalam periode itu.

Tetapi sekali lagi bukan itu.

Apa yang saya tampilkan lebih pada imaji seseorang dengan latar belakang pendidikan sejarah yang sedang membicarakan persoalan-persoalan penting dalam lintasan sejarah Indonesia. Imaji itu muncul dari sosok-sosok orang yang tampil mengisi kisah buku ini.

Analogi Michelangelo dalam kisah penciptaan membantu menjelaskan persoalan ini. Ketika menggambarkan Adam dan Hawa, Tuhan dan Malaikat, sudah pasti semua sosok itu tidak datang dan hadir di hadapan sang maestro saat menggerakan kuasnya. Ia berangkat dari kenyataan hidupnya sendiri, bergerak mencari model—di pasar, di suatu pojok jalan, atau di tengah-tengah keramaian—yang memberikannya imaji tentang sosok dalam kisah penciptaan.

Begitulah.

Setiap orang yang tampil dalam uraian buku ini membawa cerita sejarahnya sendiri. Saya mengikuti kisah hidup seperti apa yang dialami dan dilalui masing-masing orang tersebut. Tetapi buku ini bukan sekadar kisah hidup orang-orang itu. Mereka hadir seperti layaknya sosok model bagi seorang pelukis untuk membangkitkan imajinasi dalam menarik garis dan memberi warna tentang bagaimana lukisan sejarah Indonesia modern mungkin hadir di hadapan Anda.

 

***

Lalu dengan cara apa model yang hadir memberikan inspirasi dan imajinasi menjadi sebuah lukisan?

Saya ingin mengatakannya sebagai The Angle of Vision yang sekaligus menjadi judul buku ini. Frase Inggris ini telah digunakan seorang sejarawan tentang Prancis, Richard Cobb, ketika bercerita tentang orang-orang biasa yang membentuk diri mereka dengan cara baru seiring dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat tempat mereka hidup dan sekaligus juga melahirkan sosok diri yang baru.

The Angle of Vision bukan sekadar “sudut pandang”. Ia berbicara tentang bagaimana seseorang membangun ide dan harapan, hampir mustahil sifatnya, tapi tetap dilakukan dalam hidup mereka.

Dengan cara seperti ini masing-masing sosok hadir menjadi sebuah model yang memberi latar penuh warna yang bisa saya lukiskan terhadap perjalanan sejarah Indonesia.

Sederet orang ini telah berkiprah sebagai negarawan, intelektual, sastrawan, dan sejarawan. Mereka telah menampilkan sosok diri melalui tulisan, tindakan, dan juga keyakinan politik pribadi dalam hamparan sejarah itu. Tetapi juga ada sosok yang mewakili kehidupan biasa tanpa pernah orang lain tahu bahwa dirinya pernah ada di dunia ini. Sosok itu pun bagian dari sebuah sejarah besar yang pernah ada dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Keragaman mereka disatukan oleh keyakinan pribadi yang menggerakkan diri untuk mengatasi kemustahilan periode sejarah kehidupan mereka masing-masing. Melalui kesatuan masing-masing sosok itulah saya memberikan Anda sebuah lukisan tentang Indonesia dan sejarah yang membentuknya. Mungkin lukisan itu bisa ditempatkan sebagai pajangan salah satu dinding rumah pribadi Anda, sekadar mengingatkan diri sendiri tentang apa yang hendak dicapai dalam rentang masa hidup kita sendiri.

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s