Sang Guru dan Secangkir Kopi di Atas Meja

Aku hanya berbicara padamu dengan kata-kata
yang sebenarnya di dasar alam pikiranmu
engkau sendiri telah tahu.
Dan apakah arti pengetahuan
kecuali sebentuk bayangan tanpa kata-kata?
Pikiranmu dan kata-kataku
adalah gelombang dari ingatan tak terpisahkan,
yang menyimpan kenangan hari-hari kemarin kita.
— Khalil Gibran, Sang Nabi

Suatu sore, ketika sedang bekerja, telepon genggam saya berdering. Nomor rumah Ong muncul di layar. Suara Ong yang serak meminta saya segera datang ke rumahnya. Tidak ada penjelasan mengapa. Saya juga tidak sempat bertanya. Ong menutup teleponnya dengan cepat. Saya sering dibuat jengkel dengan kebiasaan ini. Tetapi kadang terselip juga rasa khawatir. Bilakah terjadi sesuatu? Pengalaman senantiasa menunjukkan tidak. Apa yang dibilang penting dan mendesak seringkali hal-hal “biasa”—sekadar punya teman bicara, lalu Ong sibuk sendiri. Terkadang balik ke tempat tidur dan saya ditinggal begitu saja.

Hari sudah agak malam ketika saya tiba di tempat Ong, terlambat sekitar satu jam. Di sana saya baru mengerti mengapa Ong meminta datang. Prof. Herbert Feith, Indonesianis terkemuka yang sekarang sudah almarhum, datang bertamu. Dia duduk di samping kanan dekat Ong. Memperhatikan seksama ucapan-ucapan Ong yang sulit didengar akibat serangan stroke beberapa tahun sebelumnya. Saya minta maaf atas keterlambatan. Macet adalah alasan yang mudah saya ucapkan. Seperti kota besar lain di Asia Tenggara, Bangkok dan Manila misalnya, kemacetan adalah bagian rutin kehidupan sehari-hari warga Jakarta. Setiap tahun produsen mobil selalu mencatat penambahan penjualan dan keuntungan. Buruknya transportasi umum atau keengganan berdesak-desakan di pagi dan malam hari yang penuh keringat mungkin alasan sebagian besar kelas menengah Jakarta memilih menggunakan kendaraan pribadi, meski kemacetan lalu lintas mengancamnya. Meski mengesalkan, tetapi  kadang “macet” adalah alasan efektif yang dengan mudah digunakan penduduk Jakarta seperti saya. Termasuk dalam pertemuan malam itu. Ong mengangguk dan Herbert Feith tersenyum.

Sebagai kebiasaan bila Ong kedatangan tamu –teman karib lama dan peneliti dan mahasiswa dalam dan luar negeri yang berkonsultasi tentang persoalan sejarah dan masyarakat Indonesia—Ong sering meminta saya mendampinginya. Pertama membantu menjelaskan pengucapan-pengucapan Ong yang tidak jelas dan sulit didengar. “Penyambung lidah,” demikian Ong menyebutnya.

Pernah ada pengalaman yang membuat perut terasa mulas dalam peran seperti ini. Saat itu Ong diundang sebagai peserta Konferensi Nasional Sejarah VII di Jakarta tahun 2002. Ong mengajak saya menemaninya. Dalam perjalanan, Ong ingin menjadi pembicara di salah satu sesi diskusi. Saya tidak menjawab, hanya berpikir bagaimana mungkin itu dilakukan. Pasca serangan stroke, banyak pihak memandang Ong sudah tidak mampu menjalankan peran sebagai pembicara, sehingga panitia konferensi pun hanya mengundang Ong sebagai peserta. Tapi apalah yang tidak mungkin di negeri ini? Di tempat konferensi saya menemui panitia, bersilat lidah meyakinkan mereka tentang pentingnya memberikan kesempatan bicara pada Ong.

Sedikit bermain kata-kata tentang satu pemikiran Ong terbaru yang sangat penting. Panitia pun mengizinkan. Singkat kata giliran Ong bicara. Saya dan pembantunya membantu mendorong Ong yang berkursiroda ke meja pembicara. Agak berundak dan merepotkan. Saya bersiap kembali ke kursi peserta. Tapi Ong memegang tangan saya, meminta duduk di samping menemaninya.

Minta ampun! Pandangan mata Ong membuat saya tidak kuasa menolak. Saya duduk di samping Ong seperti boneka pajang yang gelisah, berharap diskusi segera selesai, membuat coretan di atas kertas, menggambar sesuatu yang tidak jelas bentuk rupanya. Di kursi peserta ada beberapa sejarawan ternama Indonesia, salah satunya Taufik Abdullah yang pernah memimpin LIPI, lembaga ilmu pengetahuan terkemuka di Indonesia. Setelah Ong selesai bicara (dan kesan saya peserta yang mendengar tidak paham apa yang diucapkan), saya sedikit mengulang hal-hal penting yang disampaikan Ong. Tidak ada pertanyaan. Saya senang karena artinya semua cepat selesai.

Peran kedua adalah pertemuan dengan Herbert Feith ini. Bagi kalangan terpelajar Indonesia, Herb –demikian Ong memanggilnya—adalah seorang sarjana terkemuka yang mendirikan pusat studi Indonesia modern di Monash University bersama John D. Legge dan J. Mackie. Tesisnya yang terkenal berbicara tentang pertentangan antara solidarity maker dengan populisme dan mobilisasi rakyat dalam politik seperti diwakili presiden Indonesia pertama Soekarno dengan administrator (teknokrat) yang lebih banyak “bekerja dibanding bicara” seperti diwakili Mohammad Hatta dan para intelektual yang sering diasosiasikan dengan lingkaran Partai Sosialis Indonesia (PSI) dalam sejarah politik Indonesia dekade 1950an dan 1960an. Analisanya itu menempatkan Herb sebagai sarjana penting kajian Indonesia modern. Kritik Harry J. Benda (guru pembimbing dan sahabat Ong di Universitas Yale) terhadap pandangan para pengamat asing tentang pengalaman sejarah negara Dunia Ketiga yang dibangun dengan “keharusan mengikuti alur sejarah sama seperti negara Barat” yang membentuk asumsi di belakang pemikiran Herb tidak mengurangi sosok kesarjanaannya.

Herb lahir di Wina, Austria, pada 1930, berasal dari keluarga Yahudi yang bermigrasi ke Australia. Latar belakang pribadinya ini menarik. Ketika muda ia aktif dalam gerakan anti-perang Vietnam meskipun secara pribadi ia memiliki sikap antikomunisme yang membentuk pemikirannya tentang Indonesia pada dekade 1960an dan 1970an. Herb juga merupakan pribadi menarik yang getol dengan pemikiran Ivan Illich dan Johan Galtung dan dalam suatu masa hidupnya menjadi seorang vegetarian dengan memelihara kumis dan jenggot yang mengesankan seorang “Rabi Yahudi” dalam pandangan Ong.

Singkat kata Ong mengenalkan saya sebagai muridnya. Herb mengangguk. Dengan sopan Herb bertanya tentang diri saya dan apa yang sedang dikerjakan. Saya lebih banyak gugup ketika menjawab. Herb maklum, dan tetap mendengar cerita saya sampai akhirnya pamit pulang.

Ia menjanjikan sebuah buku yang pernah dibacanya, yang menurutnya penting berkait dengan topik yang saya kerjakan. Setelah Herb pulang, pembantu Ong bercerita bahwa Herb sebelumnya sudah minta izin pulang lebih cepat, tapi Ong memaksa Herb menunggu untuk bertemu saya terlebih dahulu. Mengingat itu hati menjadi tidak enak. Beberapa minggu kemudian ada kabar menyedihkan dari Australia. Herb meninggal tertabrak kereta saat sedang mendorong sepedanya dekat rumahnya di Melbourne.

Menyedihkan buat Ong. Menyedihkan buat saya. Orang yang baik dengan wajah yang lembut dalam ingatan. Bagi Ong, Herb adalah seorang “nasionalis Indonesia” dari jauh, bahkan sering lebih Indonesia dibanding orang Indonesia sendiri.

***

Onghokham telah menjadi sejarawan terkemuka di Indonesia sebelum saya menjadi mahasiswa sejarah FSUI pada 1990. Sepulang dari Yale University pertengahan 1970an, Ong banyak menulis di media massa dalam bentuk artikel pendek dan esai tentang masalah-masalah kontemporer dan sejarah Indonesia. Lewat tulisannya yang terbit di harian Kompas, majalah Tempo, dan jurnal Prisma yang pada dekade 1980an dan 1990an menjadi barometer tingkat kesarjanaan bagi kalangan intelektual Indonesia, Ong memang menunjukkan diri sebagai seorang intelektual publik dengan pikiran-pikiran tajam dan inspiratif.

Aktivis-aktivis mahasiswa dekade 1980an dan 1990an mengaguminya dan menganggap pikiran-pikiran Ong mewakili aspirasi mereka dalam melawan otoritarianisme Orde Baru. Dalam banyak tulisan, Ong sering mengungkapkan kritik terselubung tentang watak kekuasaan yang kadang absurd dan Machiavelian dari para pembesar Orde Baru, tetapi kritik itu disampaikannya melalui tokoh-tokoh pejabat pribumi dan kolonial Belanda pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 sebagai karikatur sosok penguasa Orde Baru.

[Tulisan ini adalah cuplikan dari isi buku bab pertama. Hubungi Andi Achdian untuk mendapatkan bukunya angdhiri@gmail.com]

Advertisements

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s